Pages

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.

SBY Memakai Pakaian Pramuka

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.

Senin, 03 September 2012

Pramuka Sinjai Gelar Perkemahan Serentak

Menyambut HUT Pramuka ke 51, Kwartir Cabang (kwarcab) Gerakan Pramuka Sinjai menjadwalkan perkemahan yang akan digelar secara serentak di Kabupaten Sinjai, Selasa (28/8) kemarin. Kegiatan perkemahan masing-masing dikoordinir masing-masing kwartir ranting (kwarran) di tingkat kecamatan. Hal itu diungkapkan Koordinator Seksi Publikasi dan Dokumentasi HUT Pramuka ke-51 Zainal Abidin Ridwan.

Zainal mengatakan untuk di Kecamatan Sinjai Utara, kegiatan perkemahan digelar di lapangan Sinjai Bersatu. Sedangkan di Kwarran Sinjai Utara, panitia pelaksana berencana menggandeng relawan TIK dan Dinas Kominfobudpar Sinjai untuk memberikan pelatihan internet kepada peserta perkemahan. Sementara di Kwarran Kecamatan Bulupoddo, panitia perkemahan bekerjasama dengan Sinjai TV memberikan pelatihan jurnalistik. Perkemahan berlangsung hingga tanggal 1 September.

sumber www.sinjaikab.go.id

Minggu, 02 September 2012

Pemecatan Pelatih Pramuka tak Terkait Politik

MAKASSAR - Pemecatan tiga pelatih Pramuka tidak ada kaitannya dengan politik ataupun karena mendukung salah satu kandidat dalam pemilihan Gubernur Sulsel.

Begitu halnya dengan rencana pembentukan Ikatan Persaudaraan Pelatih Pramuka Makassar (IP3M), sama sekali tidak relevan kalau disebut bernuansa politik.

Wadah ini hanya sebagai penyalur potensi pelatih pembina Pramuka se Kota Makassar semata. Demikian diungkap Sekretaris IP3M, H Burhanuddin, Jumat 31 Agustus.

"Jadi, tidak benar kalau dikatakan saya dan semua pelatih Pramuka Makassar mendukung Syahrul Yasin Limpo dalam Pilgub 2013 mendatang. Tidak pernah saya berbicara politik, dan tidak pernah mengatakan mendukung SYL," tegasnya.

Mengenai pemecatannya sebagai Sekretaris Kwarcab Makassar, Burhanuddin mengaku bukan karena politik. Tapi perbedaan pendapat yang berujung Ketua Kwarcab marah besar, dan langsung memecat tiga pelatih pembina Pramuka.

"Saya, Pak Mappe Kasim dan Pak Tahir selalu mengingatkan Pak Ibrahim (Ketua Kwarcab, red) kalau sering bertindak diluar aturan Pramuka. Ya, mungkin tersinggung dan marah kalau sering kali diingatkan jika ada tindakannya diluar dari aturan Pramuka," tukasnya.


Sumber www.fajar.co.id

Disentuh Teman, Mendadak Roboh, Bocah SD Tewas Misterius Saat Ikuti Kegiatan Pramuka

M Ramli (11), siswa SD Negeri Babakan Asem, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, tewas tak wajar saat sedang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler Pramuka di sekolahnya, Sabtu (1/9/2012) sekitar pukul 08.30 WIB.

Ketika itu, para siswa sedang dibagi kelompok untuk kegiatan Pramuka di sekolah. Tidak jelas apa yang dilakukan bocah-bocah ini saat pembagian tugas tersebut. Namun kecerian berganti teriakan histeris saat tubuh Ramli yang dicolek temannya mendadak jatuh tersungkur.

Peralatan Pramuka Berkualitas ??
Ya. . . .  disini lah, , , 

Dia tergeletak tak bernafas dengan mengeluarkan air liur dan kencing. Mengetahui hal tersebut, pihak keluarga lantas meminta kepada polisi untuk dilakukan otopsi. Namun, pihak RS PMI menyatakan tidak menemukan tanda-tanda pemukulan atau penganiayaan di tubuh Ramli.

Iwan, paman korban, mengatakan keponakannya itu selama ini juga tidak mengidap penyakit kronis tertentu. “Sehat-sehat aja,” kata Iwan yang tampak sangat berduka.

Atas kasus ini, pihak keluarga meminta Polres Bogor mencari alasan penyebab kematian korban. “Kami hanya ingin kejelasan saja,” cetus Iwan.

Sumber www.lensaindonesia.com

Agenda Pramuka Kwartir Daerah Kwarda Jawa Barat

Agenda Kwarda Jawa Barat:
1. Halal
Bihalal dan Silaturahmi Purna Dewan Kerja se Jawa Barat, Minggu 2
September 2012 pk.10.00 WIB, Aula Bumi Kitri Pramuka


2. Peringatan Hari Pramuka tingkat Nasional, Senin 3 September 2012, 15.30 WIB, Lapangan Gajah Mada Pusdiklatnas Cibubur


3. Halal Bihalal dan Silaurahmi Kwarda Jawa Barat bersama Kwarcab se Jawa Barat, Pelatih Pembina Pramuka dan Dewan Kerja s
e Jawa Barat, Kamis 6 September 2012 pk.10.00 WIB, Bumi Perkemahan Mashudi Kiarapayung Jatinangor

4. Rapat Paripurna Andalan Daerah Jawa Barat, Kamis 6 September 2012
pk.14.00 WIB, Bumi Perkemahan Mashudi Kiarapayung Jatinangor

5. Orientasi Pramuka Mahasiswa Baru UIN Sunan Gunung Djati, Sabtu 8 September 2012 pk. 10.00 WIB, Aula UIN

6. Appel Besar Hari Pramuka Tingkat Jawa Barat, Rabu 12 September 2012, Lapangan Gasibu Jl. Diponegoro Bandung

Sabtu, 01 September 2012

Indonesian Scouts act for sustainable development

The Gerakan Pramuka Scout Organization in Indonesia is World Scouting’s largest NSO. Thus, it comes as no surprise that beginning in January 2012, the NSO launched not only one, but three projects working to protect the environment as a build up to showcase WOSM’s contribution to the upcoming Rio+20 United Nations Conference on Sustainable Development. The following three initiatives by Gerakan Pramuka were made possible with support from World Scouting’s flagship initiative Messengers of Peace.

Scouts Coral Restoration
Indonesia is the largest collection of islands in the world. Because of Indonesia’s unique geography, a huge portion of the world’s coral reefs surrounds its islands. The reefs are composed of some of the most diverse ecosystems on the planet and are home to about 25% of marine species. Unfortunately, destructive human activity and global warming has been deteriorating these valuable reefs and will continue to do so unless something is done. In response to this crisis, 15 Scouts from the communities of Pasir Putih, Situbondo, and East Java have launched the Scouts Coral Restoration Project, which will benefit 550 people throughout the nearby communities. Through this Project, Scouts have harnessed their strong respect for nature to help restore and protect these vital reefs. Through a series of activities, Scouts are learning how to dive safely, how to plant new coral reef, and most importantly, how to protect the existing coral. Additionally, the Scouts Coral Restoration program is working to build a Coral Reef Conservation Community managed completely by local Scouts. This is where Scouts will be able to share their knowledge and educate their communities on how to be eco-friendly and why it is important.

Saving the Planet, One River at a Time
The Pesanggrahan River at Lebak in South Jakarta Indonesia is polluted with garbage and suffering from soil erosion. Many in the community are unaware of the positive effects that a clean, healthy river would have on their lives. That is why 100 local Scouts launched the Saving the Planet, One River at a Time Project. These incredible Scouts are working not only to clean the river, but also to educate their communities about the negative affects of littering and how to follow other crucial eco-friendly guidelines. As a result of this Project, Scouts will not only help to ensure the sustainability of the Pessanggrahan River but they will also gain valuable knowledge about the environment, public health education, how to care for the river and surrounding areas, and about humanitarian aid. Cleaning the River and acquiring this invaluable knowledge will benefit 5,400 people in the surrounding communities. The work of the Scouts and the lessons they learn and subsequently pass on to their community will help to ensure our world stays healthy.

Mangrove Trees – Saving Indonesia’s Coast
In Semarang City Indonesia, the coastal ecology has been deteriorating with time. Recently, the community has been working to restore the coast by planting mangrove trees. 75-hectares have already been restored but there are still 85-hectares remaining. Thus, 10 local Scouts stepped up to help and started the initiative. They saw a need in their community and rose to the challenge. Mangrove Trees – Saving Indonesia’s Coast enlists Scouts to help with the vital coastal conservation work as well as informs the Scouts of the importance behind planting the mangroves. The leaders of the Project feel that it is important for everyone in the community to understand the importance of a healthy environment. They also feel that the youth are the best messengers for this initiative because they will share their experiences with their friends and families, thus increasing the communities’ overall knowledge. Through this Project, the Scouts are learning how to plant mangrove trees, they are developing skills in coastal ecology conservation and most importantly, they are learning how to establish a sustainable environment in the region, which will ultimately benefit over 8,200 people.

Each of these projects is working to establish a sustainable environment and protect the planet. And although these three projects originate from the same country, they are all focusing on different issues. This illustrates the far-reaching capabilities of support from the Messengers of Peace initiative. Through Messengers of Peace, Scouts from across the globe are able to launch projects that are important to them and their communities while still working together for a common goal, to create a better world.

www.scout.org

Jumat, 31 Agustus 2012

Papua Siap Gelar Pertemuan Pramuka 'Raimuna Nasional X 2012'

Jakarta Papua dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan Pramuka, Raimuna Nasional X tahun 2012. Pemilihan Papua karena provinsi di ujung timur Indonesia itu dinilai kondusif untuk menggelar hajatan besar setingkat nasional.

"Sekarang ini masih ada lokasi apakah di Jayapura ataupun di Biak. Kami akan membahas pada tingkat yang lebih tinggi untuk diambil keputusan. Tapi pada dasarnya siap dilaksanakan apakah di Biak ataupun di Jayapura sudah siap," ujar Menko Kesra Agung Laksono usai Rakor persiapan pelaksanaan Raimuna Nasional X 2012 di kantor Menko Kesra, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (31/8/2012).

Raimuna merupakan pertemuan para Pramuka nasional yang berusia 16-25 tahun, yang masuk dalam tingkat Pramuka Penegak dan Pandega. Raimuna sendiri merupakan kata yang diambil dari bahasa papua, "Rai" dan "Muna".

Nyari Perlengkapan Pramuka.  . . ??
Disini aja....Pasti Terjamin


"Rai" berarti sekelompok orang yang berkumpul untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan bersama. Sedangkan "Muna" adalah daya kekuatan jiwa seseorang yang berpengaruh baik dalam mencapai kesuksesan.

Agung menjelaskan Raimuna Nasional X akan digelar tanggal 8-15 Oktober 2012 dengan jumlah peserta 5.000 orang dari seluruh Indonesia. Terkait dengan situasi keamanan, Agung mengatakan hal itu menjadi tanggung jawab pihak berwenang.

"Kami juga percaya situasi keamanan tetap di-maintain, tetap dijaga oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab," tuturnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Bikman L Tobing menambahkan, suasana keamanan di Papua tidak akan mempengaruhi pelaksanaan Raimuna Nasional X. Menurutnya, kondisi di Papua sudah kondusif.

"Sekarang juga aman terkendali. Terus terang setelah adanya perubahan, ada memang rangkaian perubahan yang sudah kita tangani, dengan adanya perkembangan, ada kebijakan ditempatkan di tempat lain (dari Jayapura ke Biak). Jadi yang Jayapura sudah jauh lebih siap. Sekarang keamanan yang terjadi, kita katakan kalau kita sudah siap untuk melaksanakannya. Namun demikian, keputusan kami serahkan kepada Pak Menteri, mana yang terbaik," jelas Bikman.

Sementara itu, Sekda Papua Constan Karma juga mengatakan kesiapan pemeritah daerahnya untuk menggelar hajatan nasional Pramuka tersebut. Bahkan menurutnya, sebagai wujud kesiapan itu, Dinas PU Papua telah membangun infrastruktur untuk mendukung acara.

"Kami sudah siap, karena bumi perkemahan itu dua tahun terakhir sudah ada sikap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Dinas PU juga menyiapkan infrastruktur jalan ke bumi perkemahan. Dan semua non-teknis untuk mendukung Raimuna itu ada di Sekda sehingga dari segi itu kami sudah siap. Tinggal sinergi dengan Kwarnas (Kwartir Nasional)," pungkas Constan.

Sumber  news.detik.com

Sorry Sir, Bendera Indonesia Terbalik di Amerika

MUSIM panas Mei-Juli 2011 lalu, Imas Masturoh (23) dan Iskandar (23), anggota Gerakan Pramuka Gudep 07-081/07-082 UIN Jakarta, mengikuti program International Camp Staff (Summer Camp) di Amerika Serikat. Keduanya mewakili Indonesia untuk memberikan pembinaan terhadap ribuan pramuka penggalang AS yang dipusatkan di Colorado dan Los Angeles.

Imas dan Iskandar terpilih mewakili Indonesia setelah bersaing dengan ratusan calon peserta lain dari seluruh Indonesia. “Dari Indonesia yang lolos seleksi ada tiga. Seorang lagi, Deasy, mahasiswi dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh yang ditempatkan di Texas,” kata Imas.

“Seleksinya cukup ketat, meliputi aspek bahasa, kepribadian, prestasi di pramuka, dan pengetahuan mengenai budaya Indonesia serta dunia,” ujar Iskandar menambahkan.

International Camp Staff (ICS) merupakan program tahunan Boys Scout of America (BSA) atau Gerakan Pramuka di Indonesia. Tujuannya untuk mendidik para pramuka Amerika berusia antara 10-18 tahun dalam berbagai bidang keahlian. Tahun ini program ISC diikuti oleh sekitar 100.000 orang dari 50 negara peserta anggota World of Scout Movement (WOSM). Acara Summer Camp itu dibuka Presiden AS Barack Obama.

Susah Nyari Alat-alat Pramuka ???
Nyari aja DISINI . . .

“Pendidikan kepramukaan di AS itu cukup bagus juga. Selain peserta didiknya diarahkan untuk menjadi pemimpin yang berkarakter, mereka juga sangat dituntut memiliki keahlian dalam berbagai bidang melalui pencapaian tanda kecakapan khusus atau TKK (merit badge),” kata Imas, sarjana lulusan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (PBI-FITK) tersebut. Pencapaian merit badge itu tak lain untuk menempuh pramuka mahir, yakni Eagle Scout atau Pramuka Garuda di Indonesia.

Nasionalisme warga AS juga patut dibanggakan. Mereka di antaranya sangat mencintai bendera negaranya sendiri. Menurut Iskandar, hampir di setiap baju warga AS selalu terpasang bendera kebanggaan mereka yang berlambang garis-garis merah-putih, persegi panjang berwarna biru, serta 50 bintang itu.

Sebagai wakil dari Indonesia, Imas dan Iskandar berangkat ke AS dalam waktu berbeda alias tidak sama. Bahkan Iskandar sempat tertunda selama tiga minggu karena persoalan visa. “Saya tertunda karena nama dan daerah asal saya, Semarang, konon berbau teroris,” tutur mahasiswa semester IX Jurusan PBI-FITK itu.

Banyak pengalaman lucu dan menarik selama perjalanan menuju AS dari keduanya. Imas misalnya, ia sempat dikira TKW saat transit di Bandara Taipei, Taiwan. Soalnya, di antara para penumpang pesawat, Imas adalah satu-satunya wanita berkerudung. Saat transit itu, ia tiba-tiba ditarik seorang petugas imigrasi bandara dan diinterogasi. Namun, setelah dijelaskan, barulah petugas itu mengerti.

“Malah saya dikira turis dari Malaysia karena wajah saya Melayu dan berkerudung,” cerita Imas. Tak hanya itu, ia juga diinterogasi secara ketat saat tiba di Bandara Los Angeles dari Taipei oleh petugas dari Homeland Security Department. Seluruh tubuh Imas dipindai tanpa kecuali, mulai dari ujung kepala hingga sepatu.

Selama tinggal di camp, baik Imas maupun Iskandar, bergabung dengan sejumlah peserta lain dari berbagai negara. Mereka berbagi tugas sesuai keahlian masing-masing untuk mengajarkan mengenai berbagai keahlian. Mekanismenya, selama seminggu sekali para peserta didik (pramuka) AS itu datang secara bergantian ke acara Summer Camp setiap hari Minggu selama sekitar sembilan minggu. Mingggu pertama adalah untuk staff week atau training for staff, sedangkan minggu kedua hingga keempat untuk pelatihan peserta.

Menariknya lagi, berkemah ala pandu AS berbeda dengan Indonesia. Jika pramuka Indonesia dituntut harus “serba mandiri” dan selalu “kedinginan”, pramuka AS justru dapat menikmati fasilitas di area camp secara menyenangkan. Untuk persoalan makan misalnya, panitia sudah menyediakan para juru masak profesional dan dengan menu yang berselara. Begitu pula untuk keperluan mandi, di setiap kabin sudah tersedia air hangat yang kapan pun dapat dinikmati.

“Memang terkesan mewah, tapi pramuka AS tetap memiliki semangat berlatih dan berprestasi, bukan pemalas,” kata Iskandar, yang ditempatkan di Camp Forest Lawn Scout Reservation, Los Angeles. Pemerintah AS juga sangat menaruh perhatian terhadap pandu-pandunya yang berprestasi seperti Eagle Scout, misalnya dengan menyediakan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi.

Hal yang sama juga dirasakan Imas Masturoh selama pengalaman menjadi staff di Camp Alexander, Colorado, bersama peserta dari Polandia. Selain “mewah” area berkemah itu juga lengkap dengan berbagai fasilitas modern.

“Ada kejadian kaget bercampur malu. Saat bendera Indonesia dinaikkan oleh panitia, saya sempat protes karena warna benderanya terbalik. Saya bilang, Sorry Sir, bendera Indonesia terbalik. Setelah dijelaskan bendera itu ternyata milik Polandia, yang sama warna namun dengan posisi putih di atas dan merah di bawah,” kenang Imas.

Sumber www.uinjkt.ac.id