Pages

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.

SBY Memakai Pakaian Pramuka

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.

Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2013

SAKSI BISU PEMBERONTAKAN PETANI CONDET

Engkong Thalib (65) bercerita dalam nada bangga. Sambil menunjuk reruntuhan gedung tua di pertigaan Condet, Jakarta Timur ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, lebih kurang 91 tahun lalu, di tempat yang dikenal sebagai Villa Nova itu, para petani Betawi menyabotase sebuah pesta yang dilakukan oleh orang-orang Belanda. Peristiwa itulah yang 4 hari kemudian memantik adu nyawa para petani pimpinan Haji Entong Gendut dengan para serdadu marsose Belanda dan centeng-centengnya di Batu Ampar.

 Laki-laki dengan 10 cucu itu bercerita, dari generasi ke generasi kisah perlawanan itu terus dipelihara. Biasanya cerita tersebut disampaikan oleh para engkong sebagai bukti,”Kite orang Betawi tidak bisa begitu aje diinjak-injak ame kumpeni,”ujar penduduk asli Kampung Gedong itu.

 Thalib memang tidak sekadar mendongeng. Sartono Kartodirjo dalam Protest Movements in Rural Java menyatakan pemberontakan Condet memang tercatat dalam dokumentasi pemerintah Hindia Belanda. Cerita bermula dari sebuah peristiwa yang terjadi pada sekitar Februari 1916.


 Saat itu, Lady Lollinson-- seorang tuan tanah berkebangsaan Inggris—menang perkara atas seorang petani tua bernama Pak Taba. Selanjutnya, landrad (pengadilan) Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) memutuskan untuk menyita seluruh hak milik Pak Taba.

 Eksekusi pun dilakukan secara cepat dan terbuka. Secara paksa, para petugas pengadilan menyita seluruh harta Pak Taba, termasuk sebidang tanah di Kebon Jaimin sebelah utara. Maka sejak itu, jadilah Pak Taba dan keluarganya jatuh miskin.

 Penduduk Condet banyak bersimpati sekaligus marah atas nasib yang menimpa Pak Taba. Tak terkecuali, tokoh kharismatik mereka yang bernama Haji Entong Gendut.”Dia merasa gerah, karena cerita kumpeni menggusur tanah orang Betawi sudah terjadi ratusan kali,”tutur Thalib.

 Willard Hanna –sejarawan Indonesia asal Amerika Serikat--menyebut penyitaan oleh pemerintah Hindia Belanda sangat lazim pada tahun 1900-an. Itu terjadi karena rakyat kebanyakan tidak sanggup membayar blasting (pajak tanah) yang diterapkan. “Jumlahnya memang fantastis, hingga wajar dari blasting ini bisa menutupi 30% kebutuhan negeri Belanda,”tulis Hanna dalam Hikayat Jakarta.

 Karena tidak tahan, melihat penderitaan rakyatnya,Haji Entong kemudian bermusayawarah dengan tokoh-tokoh Condet lainnya seperti Haji Amat Wahab dan Haji Maliki. Keputusan pun lahir: mereka harus melawan.

 Maka pada 5 April 1916, sekitar jam 11 malam, ketiga haji itu memimpin 30 pemuda bergerak ke arah kediaman Lady Lollinson di Vila Nova.Dengan gagah berani, mereka menghentikan pesta Tari Topeng yang menyertakan juga kegiatan judi dan pelacuran.Saat ditanya oleh Mantri Polisi alasan penghentian itu, Haji Entong menjawab,”Demi agama!”

 Penghentian itu ditafsirkan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai sebuah bentuk pembangkangan. Empat hari kemudian, menjelang ashar ratusan orang yang terdiri dari serdadu marsose, centeng-centeng tuan tanah dan para upas mengepung rumah Haji Entong di Batu Ampar.

 “Keluar kau, Entong!”teriak Wedana Pasar Rebo yang memimpin rombongan para pengepung itu

 "Gue bakalan keluar setelah sembahyang barang sebentar!" sahut Haji Entong dari dalam rumah.

 Detik demi detik berlalu. Dengan tegang para pengepung menunggu Haji Entong keluar. Bada ashar (sekitar jam 4 sore), Haji Entong pun keluar. Bersamaan keluarnya dia, dari semak-semak bermunculan puluhan jagoan Condet. Pertempuran pun berjalan secara tidak seimbang. Dentingan golok dan tombak terdengar nyaring bersanding dengan suara tembakan dari senapan para serdadu marsose.

 Haji Entong sendiri bertempur bak harimau lapar. Dengan sebilah golok, dan tombak berbendera merah dihiasi bulan sabit putih, dia mengamuk. Dari mulutnya, tak henti-henti terdengar takbir,” Allahu Akbar! Sabilillah…Gue kagak takut ame kompeni!”teriaknya.

 Menjelang magrib,puputan di Batu Ampar itu berakhir. Tanah Batu Ampar yang berwarna merah semakin merah karena darah. Di bawah pohon duku dan rimbunan pohon salak, puluhan mayat bergelimpangan. Termasuk mayat beberapa pemuda Condet dan para haji Betawi yang ikut bertempur.

 Mayat Haji Entong sendiri tak pernah jelas keberadaannya. Ada tiga versi cerita rakyat Condet berkaitan dengan hal ini. Pertama, mayatnya dibawa hanyut arus Sungai Ciliwung saat dia terdesak ke arah sungai itu lalu tertembak mati.

 Versi kedua, mayat Haji Entong diangkut Belanda lalu dimakamkan di sebuah tempat di Bogor. Versi yang tarakhir malah sangat tragis, mayat Haji Entong diceburkan oleh Belanda ke Laut Jawa.

 Versi mana yang betul, tidak ada seorang pun yang berani menjaminnya. Namun yang jelas,sejarah mencatat upaya itu menjadi sebuah pemberontakan besar terakhir kaum tani di Betawi terhadap Belanda.Memang setelah kejadian tersebut, ada muncul sosok-sosok haji pemberontak lainnya.Namun mereka hanya sebatas "palang dade" saja. Seperti misalnya di Tanah Abang , ada sosok Haji Sabeni atau di Kemayoran, terkenal pula nama Haji Ung. Mereka dikenal sebagai palang dade atau pembela masyarakat setempat jika rakyat memiliki masalah dengan Belanda dan kroni-kroninya.

 Bisa jadi karena sikap patriotik para haji saat itu, banyak nama jalan di Jakarta kemudian menggunakan nama mereka. Sebuah simbol kebanggaan rakyat Betawi akan leluhur mereka yang pahlawan. Laiknya kebanggaan Engkong Thalib.

Sumber : Hendi Jo

Rabu, 26 Juni 2013

ABG ERA REVOLUSI


Mungkin karena keadaan, abege zaman revolusi tak sepenuhnya bisa "mereguk indahnya masa-masa remaja". Alih-alih nongkrong2 atau sekadar pergi ke pesta, yang ada mereka malah harus selalu stelling (posis siap tempur) di front terdepan. Ronald Stuart Kain (jurnalis perang dari National Geographic yang pernah meliput perang kemerdekaan di Jawa) melukiskan mereka sebagai "tentara-tentara yang tampak baru beranjak remaja, sebagian besar begitu pendek dan kurus sehingga senapan yang mereka bawa terlihat terlalu berat. Seragam yang mereka pakai juga sangat beragam, demikian pula perlengkapan senjatanya. Sebagian besar seragam dan perlengkapan kelihatannya berasal dari tentara Jepang."

Sumber : Hendi Jo

Selasa, 25 Juni 2013

BERTEMPUR DI SAMPING KAWAN YANG GUGUR


Bertempat di pinggiran kota Surabaya. Seorang serdadu Belanda dari Kesatuan Marinir Kerajaan sekuat tenaga melumpuhkan para gerilyawan republik yang bersembunyi di sebuah gubuk. Sementara di sampingnya, seorang marinir lainnya terkapar dan gugur seketika terkena berondongan peluru yang berhamburan dari Senapan Mesin 12,7 para gerilayawan. Sumber resmi organisasi veteran Belanda menyebutkan sekitar 8000 tentara Belanda gugur selama "aksi polisional" (1946-1949) mereka di Indonesia. Ribuan lainnya cacat dan hilang di hutan-hutan tropis Nusantara.

Sumber : Hendi Jo

Minggu, 23 Juni 2013

SERDADU INGGRIS ASAL INDIA YANG MEMBELOT DI SURABAYA


Kopral Mir Khan, salah seorang serdadu dari British Indian Army mengaku kerap galau setiap ia berkesempatan berhadapan dengan pejuang-pejuang di Surabaya di medan tempur, ia selalu mendengar teriakan “Allahu Akbar". Hal yang sama juga dirasakan oleh prajurit muslim British Indians Army lainnya. Kegalauan itulah yang kemudian membuat mereka nekad untuk membelot (desersi) dan bergabung dengan para pejuang. Menurut catatan sumber Inggris, sekitar 300 serdadu muslim India diperkirakan membelot dan bergabung dengan para pejuang Surabaya. Foto yang dirilis Imperial Musseum War ini memperlihatkan anak-anak muda India Muslim yang tengah menyerahkan diri ke pihak Republik.

Sumber : Hendi Jo

Kamis, 20 Juni 2013

SATU MCK DENGAN SERDADU BELANDA


Orang-orang bumiputera yang tempat tinggalnya dekat tangsi militer tentara Belanda tak memiliki pilihan lain untuk menyalurkan hajatnya. Mereka mencuci baju, mandi, dan buang hajat "terpaksa" berbagi dengan para serdadu Belanda. Bahkan menurut Johan van Duppre, perempuan-perempuan kampung sekitar tangsi bahkan ada yang menjadi penjual jasa mencuci baju bagi para tentara Belanda. Sebuah pemandangan yang saya ambil dari koleksi foto Flip Peeters (lelaki Belanda yang pernah dikirim ke Indonesia pada 1946-1949 sebagai tenaga tempur). Lokasi dan waktu tidak diketahui dengan pasti.

Sumber : Hendi Jo

Minggu, 16 Juni 2013

PATROLI TENTARA INGGRIS DI JALANAN JAKARTA


Sebuah tank M3 Stuart milik tentara Inggris tengah berpatroli di sekitar Jalan Matraman dan Jatinegara (dekat Komplek Militer Bearland sekarang), Jakarta pada awal 1946. Sementara di sisi kiri, sebuah trem yang dipenuhi penumpang meluncur seolah ingin berpacu dengan alusista era PD II tersebut.

Sumber : Hendi Jo

Jumat, 07 Juni 2013

PENERJUN PASUKAN KHUSUS BELANDA JATUH DI PEMUKIMAN PENDUDUK YOGYAKARTA (1948)

Para penerjun payung dari DST (Depot Speciaale Troepen atau sejenis Kopassus-nya Belanda) mendarat di tengah pemukiman penduduk dekat Lapangan Maguwo, Yogyakarta dan langsung menguasai Yogyakarta dari tangan pasukan TNI pada 19 Desember 1948. 


Mereka yang diterbangkan sejak pukul 02.00 dari Lanud Andir Bandung, kemudian secara cepat menguasai ibu kota RI tersebut serta menawan para pemimpinnya termasuk Sukarno-Hatta. TNI sendiri tak pernah menyangka Belanda akan menyerang pada hari itu, Ketika melihat beberapa pesawat B-25 Mitchell, P-51 Mustang dan pesawat penyergap P-40 Kittyhawk melayang di udara Jogja, alih-alih menembakan meriam penangkis serangan udara, sebagian dari mereka malah melambai-lambaikan tangan karena mengira pesawat-pesawat tersebut milik AURI (memang pada hari itu ada pengumuman latihan gabungan dari semua matra di tubuh TNI). 

Begitu rentetan senjata membahana barulah mereka sadar Belanda menyerang dan mereka tak memiliki kesiapan untuk membalasnya, kecuali sekitar 30 prajurit pangkalan Maguwo dan sekelompok pasukan tentara dari KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) yang secara berani sempat melakukan penghadangan dan penggangguan terhadap pasukan Kolonel Van Langen sebelum masuk ke Istana via Jalan Solo. Tapi Van Langen sebagai sinyo kelahiran Yogya yang lulusan Akademi Breda, cukup tahu bagaimana caranya menjepit pasukan bandel ini. Dia memecah pasukannya, salah satunya yang menerobos brikade TNIi via Kantor Pos. Pasukan inilah yang pada akhirnya berhasil menduduki Istana/Gedung Agung dengan lebih cepat dan menawan Soekarno-Hatta cs. 

Akibat serangan tiba-tiba itu, TNI kehilangan sekitar 40 prajuritnya, sedangkan korban dari pihak militer Belanda nol. Saat penerobosan dan penyerangan ke Istana itu, Van Langen sendiri yang memimpin pasukan tersebut langsung dari jeep wilys-nya. Sementara Jenderal Spoor mengikuti jalannya pertempuran via radio di pesawat komando. Konon, sebelum melakukan penyerangan yang dikenal sebagai Operasi Burung Gagak tersebut, Spoor yang kala itu mengenakan jaket kulit, kacamata hitam dan topi pet menyapa Kolonel Van Langen dengan salam dua jari yang mengisyaratkan simbol "victorie, tanda kemenangan.

Sumber : Hendi Jo


Kamis, 06 Juni 2013

SIAP-SIAP TAK KEMBALI


Seorang gerilyawan republik di wilayah Banyumas yang tertangkap (1948), tengah menunggu giliran diinterogasi oleh petugas IVG (Informatie voor Geheimen) IVG dikenal sebagai momok menakutkan bagi para gerilyawan republik yang tengah ada dalam tahanan militer Belanda. Para petugas dinas rahasia tentara Belanda ini merupakan tentara-tentara pilihan dari polisi militer (MP) Belanda. Mereka dikenal memiliki kecapakapan khusus di bidang psikologi dan teknik penyiksaan. Jarang ada gerilyawan republik yang kembali jika sudah diambil oleh IVG. Foto koleksi Museum Perang Leiden Belanda.

Sumber : Hendi Jo

Selasa, 04 Juni 2013

PATROLI INGGRIS DAN LENCANA MERAH PUTIH

Akhir 1945 adalah masa-masa yang mencekam di Jakarta. Begitu Sekutu (terdiri dari serdadu Inggris, Australia dan Belanda) mendarat, Kaum Republiken (pendukung proklamasi) memilih untuk menyingkir ke luar kota, akibatnya sebagian Jakarta kosong dan hanya menyisakan para priyayi pro Belanda dan borjuis-borjuis kulit putih yang tinggal di kawasan elit Menteng. "Selain komunitas pro Belanda, Jakarta saat itu hanya terdiri dari kaum gerilyawan kota dan para bandit," ujar Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.


 Jika para gerilyawan kota memiliki aktivitas menyerang kedudukan serdadu-serdadu Sekutu dan berupaya merampas senjata-senjatanya, tidak begitu dengan para bandit. Hampir dipastikan mereka tiap malam beroperasi menggasak harta benda penduduk Jakarta yang mengungsi dan menggarong rumah-rumah di Menteng. Tak jarang juga terjadi praktek pemerkosaan dan pelecehan seks terhadap perempuan Indo dan kulit putih.

 Situasi tersebut mejadikan Jakarta mirip "kota liar dan tak bertuan" seperti dalam cerita koboy wild-wild west. Untuk mengantisipasi soal ini, Sekutu lantas menugaskan para tentaranya untuk memulihkan keamanan dengan cara melakukan patroli dan pemeriksaan rutin. Operasi pemulihan ini justru lebih banyak menciduk Kaum Republiken dibanding para bandit. Bahkan ada upaya dari pihak NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan Van Mook) menyamaratakan semua aksi orang bumiputera sebagai aksi-aksi kriminalitas.

 Ini adalah salah satu foto koleksi dari IWM, Inggris yang memperlihatkan sebuah patroli Sekutu dari unsur tentara Inggris tengah melakukan pemeriksaan rutin di wilayah Salemba."Kalau Inggris yang melakukan pemeriksaan tidak begitu khawatir kita, karena mereka melakukannya sopan dan tidak kasar. Beda dengan perlakuan dari serdadu-serdadu NICA yang terkenal kejam,"ujar Bustomi seorang mantan lasykar kepada saya beberapa waktu lalu.

 Soal perlakuan bengis ini memang bukan isapan jempol semata. Menurut Adam Malik, salah seorang pentolan pemuda Menteng Prapatan, para serdadu NICA selain kerap memukul dan menembak juga tak jarang menyiksa para pemuda di luar batas kewajaran. "Jika kadapatan ada pemuda yang memakai lencana merah putih, mereka akan memaksa sang pemuda tersebut menelan lencana tersebut. Tak peduli lencana itu terbuat dari kain atau kaleng..." tulis Adam Malik dalam Mengabdi Republik.

Sumber : Hendi Jo


Senin, 03 Juni 2013

KAPAL SELAM MINI BUATAN PABRIK WATSON

Di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), persenjataan ibarat emas. Dibandingkan militer Belanda, alutsista (alat utama system persenjataan) militer Indonesia jelas tak ada apa-apanya. Selain mengandalkan rampasan dari tentara Jepang, Inggris dan Belanda serta pembelian di pasar gelap, militer Indonesia juga berinsiatif memproduksi sendiri system persenjataanya. Menurut keterangan Letjen (purn) Sayidiman, setidaknya ada dua “pabrik senjata” yang tersohor saat itu. Pertama, namanya Watson, sebuah pabrik besi dan rongsokan yang kemudian disulap menjadi pabrik alusista darurat. Kedua yakni “pabrik senjata” Demakijo, sebuah produsen senjata yang tadinya merupakan pabrik gula. Kedua “pabrik senjata” tersebut berada di kawasan Yogyakarta.

 Kendati sangat berguna, produk-produk “abal-abal” yang meniru Stendgun, karaben Qirov, ranjau darat, granat gombyok penggunaannya memang jauh dari harapan. Tak jarang senjata-senjata itu macet di tengah pertempuran atau tiba-tiba larasnya menjadi bengkok (karena tak kuat menahan panas mesiu dari peluru yang terus diberondongkan). Bahkan granat gombyok (granat berekor seperti buntut kuda) sering memakan korban putusnya tangan sang pelempar, karena api yang disulut lewat ekornya keburu mencapai detonantor sebelum dilepar ke sasaran musuh dan meledak di tangan.

 Namun apa daya, proyek Watson dan Demakijo tetap dilanjutkan. Pada sekitar pertengahan tahun 1948, Watson mendapat order proyek dari Kementerian Pertahanan RI untuk membuat sejenis kapal selam mini. Menurut Drs Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949, kehadiran kapal selam mini ini diperlukan untuk menghancurkan kapal-kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang bertugas memblokade pergerakan di laut-laut sekitar Pulau Jawa.

 Maka dipanggillah seorang perwira ALRI bernama J. Gigan. Ia merupakan alumni Akademi Angkatan Laut Den Helder Belanda. Selama Perang Dunia II berkecamuk, ia berdinas di kesatuan mariner Belanda. Begitu mendengar Indonesia merdeka, Gigan lantas keluar dari Marinir Belanda dan pulang ke tanah air untuk bergabung dengan para gerilayawan.

 Percobaan pertama kapal selam mini tersebut dilakukan di Kalibayem, yang terletak di sebelah barat Yogyakarta. Kapal selama yang digerakan oleh mesin truck ini saat percobaan berhasil bergerak, mengapung dan menyelam. Tetapi ketika torpedonya diijicoba untuk ditembakan, tiba-tiba handel pengikatnya tak mau lepas dan torpedo tetap terikat di tempatnya semula. Akibatnya sungguh fatal: kapal selam mini yang hanya diawaki oleh satu manusia saja itu malah ikut terseret oleh dorongan torpedonya. Maka gagalah proyek rahasia itu.

 J. Gigan sendiri berusaha memperbaiki kelemahan kapal selam made in Watson tersebut. Namun sebelum hasil sempurna dicapai, pada 19 Desember 1948, militer Belanda menyerbu Yogyakarta dan merampas semua alutsista yang berada di Watson dan Demakijo. Termasuk kapal selam mini yang tadinya diangankan bisa membuat geger Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu.

Sumber : Hendi Jo


Minggu, 26 Mei 2013

GUGURNYA SEORANG GERILYAWAN


Seorang gerilyawan republik pemegang Senapan Mesin 12,7, gugur dengan tubuh terkoyak-koyak peluru tentara Belanda. Foto ini tak berketerangan lokasi dan kapan kejadiannya. Namun bisa dipastikan, sang gerilyawan memang masih berusia muda.

Sumber : Hendi Jo

Daftar Anggota DPR yang Anti Program PRO RAKYATnya JOKOWI - [ TOLONG DISEBARKAN ]


Berikut nama-nama Anggota DPRD DKI yang menandatangani Hak Interpelasi (pemakjulan/pelengseran) terhadap Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, karena tak setuju KJS dan KJP yang mengGRATISkan 100% biaya bagi rakyat yang tak mampu. Sejak semasa Sutiyoso dan Foke mereka cuma setuju maximal 50% supaya sisanya bisa diCAK bareng bagi rata dengan para birokrat DKI.

 Nama2 anggota DPRD DKI Jakarta yg mengajukan interpelasi :
 1. Aliman Aat (Demokrat)
 2. Taufiqurahman (Demokrat)
 3. Habib Husein Alaydrus (Demokrat)
 4. Abdul Mutholib (Demokrat)
 5. Sandy (Demokrat)
 6. Neneng hasanah (Demokrat)
 7. Siti Sofiah (Demokrat)
 8. Mujiyono (Demokrat)
 9. Hidayat Ar Yasin (PAN)
 10. Moh Asyari (PAN)
 11. Agung Haryono (Demokrat)
 12. Nawawi (Demokrat)
 13. Rukun Santoso (Demokrat)
 14. Lucky (Demokrat)
 15. Berlin (Demokrat)
 16, Matnoor Tindoor (PPP)
 17. Ichwan Zayadi (PPP)
 18. Fahmi Zulfikar (Hanura-PDS)
 19. Guntur (Hanura-PDS)
 20. Farel Silalahi (Hanura-PDS)
 21. TS Yance (Demokrat)
 22. Abdul Aziz (PPP)
 23. Ruddin Akbar Lubis (Golkar)
 24. Hendry Ali (Demokrat)
 25. Marie Amadea (Demokrat)
 26. Mirna Na'Amin (Demokrat)
 27. Dr Suprawito (Hanura-PDS)
 28. Belly Bilalusalam (PPP)
 29. Santoso (Demokrat)
 30. Hardi (Demokrat)
 31. DR Marthin (Demokrat)
 32. Maria Hernie (Demokrat)

 Mohon disebarkan, biar semua rakyat DKI Jakarta (Khususnya) dan Rakyat Indonesia (Umumnya) tau siapa2 wakilnya yg anti program pro rakyatnya Jokowi.

Sumber : Facebook

Sabtu, 25 Mei 2013

BANDIT - BANDIT REVOLUSI KITA

Mereka seperti penumpang gelap dalam kereta api revolusi: dinafikan dan tak diinginkan namun selalu dimanfaatkan.Kehadirannya kerap menguntungkan perjuangan, namun sering pula menjadi senjata makan tuan.

 Masih ingat Si Nagabonar? Tokoh yang diambil dari sebuah film nasional berjudul sama itu merupakan seorang pencopet kelas teri yang dikisahkan mengalami mobilisasi vertikal: mendadak menjadi jenderal.Kendati tumbuh dari lingkungan hitam, Nagabonar (diperankan secara ciamik oleh aktor kawakan tahun 80-an:Dedy Mizwar) dikenal sebagai pemimpin lasykar (sebutan untuk kelompok milisi bersenjata di era Perang Kemerdekaan) yang pemberani, bertanggungjawab, kharismatik sekaligus konyol dan nyentrik.

 Kisah sebangsa Nagabonar itu ternyata tidak diambil dari khayalan belaka. Tahun 1945-1949, saat kecamuk perang melanda negeri kita, fenomena pejuang yang berlatar sebagai kriminal, banyak bermunculan di mana-mana. Sebut saja dalam Perang 10 November 1945 di Surabaya, kelompok narapidana penjara Wirogunan dikenal sebagai pasukan yang termasuk ditakuti tentara Inggris karena kenekadannya.

 Di daerah Front Bandung juga dikenal sebuah kesatuan lasykar bernama Pasukan Teratai. Kesatuan yang dipimpin oleh Jenderal Major drg. Moestofo tersebut terdiri dari para maling dan pelacur kelas teri. Mereka ditugaskan untuk mengacau daerah pendudukan termasuk menurunkan moril tentara Belanda. “Pak Moestofo menyebutnya sebagai Barisan M (Maling) dan Barisan P (Pelacur),” tulis Drs.Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949.

 Lantas di Front Jakarta ada Haji Darip, jagoan Klender yang memimpin Barisan Rakyat Indonesia (BRI). Selain BRI, Pasukan Beruang Merah dan Barisan Pelopor pun cukup disegani di kawasan Karawang-Bekasi. “Mereka memadukan kriminalitas dan patriotisme dalam sebuah wajah,”ujar Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949.

 Kehadiran pasukan para jagoan itu memang cukup mendukung kerja-kerja tentara resmi. Selain keberaniannya, mereka pun biasanya tak pernah menolak jika diserahi tugas melakukan sebuah operasi penyelusupan, sebahaya apapun itu.Namun di lain pihak, watak bandit mereka tak sekonyong-konyong luntur begitu saja. Saat melakukan operasi, tak jarang mereka berprilaku merugikan rakyat dan pihak republik.

 Ada sebuah cerita lucu. Suatu hari Mayor Jenderal Moestofo mengeluh kehilangan tas yang berisi pakaiannya kepada Letnan Kolonel Sukanda Bratamanggala (Komandan Sektor Bandung Utara). Alih-alih memberikan keterangan, Kolonel Bratamanggala dilapori demikian malah tertawa.

 “Lho, kok Overste (Letnan Kolonel) malah ketawa?” tanya Moestofo kepada komandannya tersebut. Jangan merasa aneh, di era revolusi, seorang Jenderal Major bisa menjadi seorang bawahan seorang Letnan Kolonel. Lebih gilanya, bahkan seorang komandan lasykar bisa membuat pangkat sendiri laiknya Si Nagabonar. Itu nyata terjadi dalam sejarah kita.

 Ditanya demikian, Letnan Kolonel Bratamanggala makin keras tawanya. Setelah reda, ia baru berkata: “Siapa lagi yang mengambil kopor Jenderal jika bukan anak buah Jenderal sendiri? Ini kan namanya senjata makan tuan…”katanya sambil tersenyum geli. 

 Selanjutnya bukan saja kopor Jenderal Major Moestofo saja yang digasak, harta benda rakyat di daerah yang ditinggal mengungsi pun tak luput dari incaran mereka. Begitu pula Barisan P yang diharap bisa menurunkan moril tentara Belanda, malah menebar spilis di kalangan tentara republik. Demi disiplin dan menjaga timbulnya kerugian lebih besar, akhirnya kedua pasukan istimewa itu ditarik dari front dan dibubarkan.

 Sebelumnya di Surabaya, para preman masa lalu yang tergabung dalam lasykar-lasykar tersebut diberitakan kerjaannya hanya merampok, menjarah dan memperkosa para perempuan Belanda dan Indo. Bahkan salah seorang preman lasykar bernama Mayor Sabaruddin, dilaporkan membuat sebuah harem khusus yang terdiri dari puluhan perempuan kulit putih tersebut. Soal kecabulan liar para kriminal berkedok pejuang itu setidaknya pernah diceritakan oleh penulis kenamaan Trisjuwono dalam cerpennya berjudul Di Medan Perang.

 Prilaku para preman itu di Jakarta lebih parah lagi. Merasa melarat terus menjadi lasykar, puluhan diantara mereka (dikenal sebagai Kelompok Panji) malah menggabungkan diri dengan tentara Belanda. “Di bawah supervisi Koert Bavinck (seorang letnan muda dari kesatuan intelejen yang pandai berbahasa Melayu) mereka lantas dibuatkan unit khusus bernama Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen (HAMOT) alias Pasukan Liar Sang Ratu…”tulis Cribb.

 HAMOT kemudian menjadi sebuah kesatuan lasykar binaan tentara Belanda yang sangat loyal. Di front Jakarta dan Karawang, mereka dikenal sebagai musuh nomor satu bagi tentara-tentara republik. Bahkan bukan saja bagi para tentara, untuk rakyat kebanyakan pun HAMOT adalah momok yang paling dibenci karena kekejamannya. Sungguh merupakan kebalikan dari tokoh Nagabonar.


Sumber :
Terima kasih untuk kak Randu dan Kak Hendi Jo.
Tulisannya sangat menarik kak.