Pages

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.

SBY Memakai Pakaian Pramuka

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.

Senin, 10 Juni 2013

TAKSI RIWAYATMU DOELOE

Ada sebuah anekdot yang populis di kalangan sopir taksi Jakarta.Anekdot itu berupa pertanyaan usil: apa bedanya penumpang taksi bule dengan penumpang taksi pribumi? Jawabannya: kalau penumpang bule saat naik taksi pemandangan sepanjang jalan yang ia lihat. Nah,kalau penumpang pribumi? Sepanjang jalan yang ia lihat adalah… Argometer!


 Secara historis, alat ukur pembayaran perjalanan itu memang menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan taksi di dunia. Sebelum taksi yang biasa kita kenal hari , awal perkembangan bisnis taksi dimulai dari jasa niaga penyewaan kereta kuda berukuran kecil Hackney Carriage di Paris dan London pada awal abad ke-17.

 Taksi modern sendiri mulai berkembang dengan ditandai penemuan argometer oleh Wilhelm Bruhn pada 1891. Tersebutlah, seorang pengusaha jasa niaga transportasi bernama Gottlieb Daimler yang pada 1897 menyempurnakan hasil temuan Bruhn tersebut. Ia lantas memberi nama alat tersebut sebagai Daimler Victoria. Pada 16 Juni 1897, Daimler Victoria dikirim ke Friedrich Greiner, pengusaha Stuttgart yang pertama kali membuat perusahaan taksi di dunia dengan kendaraan bertenaga batterai.

 Penggunaan kendaraan bertenaga bahan bakar sebagai taksi terjadi pada 1899 di Paris, 1903 di London dan 1907 di New York. Taxicab New York diimport oleh Harry N Allen dari Paris dan dia adalah orang pertama yang menggunakan warna kuning di taxicab New York dengan dasar pertimbangan warna tersebut adalah warna yang paling mudah dikenali di jalan.

 Selanjutnya, taksi terus berkembang terus hingga abad 20. Perkembangannya semakin maju saat pada 1940, mulai dikenal radio komunikasi 2 arah sebagai instrumen pelengkap di taksi. Penggunaan radio ini sangat membantu komunikasi operator dengan pengemudi dalam melayani order pelanggannya.

 Pada tahun 1980, masuklah teknologi komputer yang digunakan sebagai alat untuk distribusi order. Saat ini regulasi taksi yang berisikan tentang spesifikasi kendaraan yang boleh digunakan taksi serta prosedur-prosedur dasar dalam proses pelayanan pelanggan taksi menjadi salah satu perhatian penting bagi pemerintah dibidang transportasi. Taksi menjadi ikon perkembangan kota bisnis dan pariwisata di dunia.

 Di Indonesia sendiri, diperkirakan taksi mulai masuk pertama kali lewat Batavia (Jakarta) pada 1930-an. Menurut Onih Masruha (89), jumlahnya pun tak banyak,hanya puluhan. Justru dengan jumlah terbatas itu, taksi di zaman Hindia Belanda menjadi ukuran status sosial,”Orang kite mana ada yang pakai taksi,kebanyakan yang naik kalau bukan meneer-mener ya sinyo-sinyo atawa noni-noni,”ujar lelaki Betawi yang kini tinggal di kawasan Kwitang tersebut.

 Kendati bersifat eksklusif, namun taksi zaman Hindia Belanda tidak seenaknya mengambil penumpang dan mangkal di sembarang tempat. Itu berbeda dengan taksi zaman sekarang, yang sesuka hatinya mengangkut “sewa” Akibatnya, tak jarang mereka –bersama mikrolet dan metromini--menjadi biang keladi kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama ibukota.

 Di zaman Hindia Belanda, para pengemudi kendaraan bermahkota itu tidak diizinkan mengambil penumpang di tengah jalan. Mereka hanya menurunkan penumpang di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Makanya bukan suat yang aneh jika di zaman itu ada yang disebut pangkalan taksi. Fungsinya mirip terminal bus kota saat ini: calon penumpang yang ingin naik taksi harus mendatangi terminal atau pangkalan taksi tersebut.Uniknya, di pangkalan itu berlaku pula sistem antri.

 Ada beberapa pangkalan taksi yang ada saat itu di Jakarta. Diantaranya ada di Lapangan Gedung Balai Kota (Stadhuis), Kali Besar Barat dan Lapangan Glodok (Glodok Plein). Sedangkan di Weltevreden dipusatkan tidak jauh dari gedung pertemuan di Harmonie, Pintu Air, Gedung Kesenian (Stadsschouwburg), pojok selatan Lapangan Banteng (Waterlooplein), Stasiun Gambir, Deca Park, pojok Menteng atau Gondangdia Lama, Entrée Saleh (kini Jalan Raden Saleh), Kebon Binatang di Cikini, Krekot, Pasar Baru dan Senen.

 Soal kapasitas, taksi tempo doeloe itu dibatasi hanya memuat 5 penumpang. Ongkosnya dihitung berdasarkan kilometer yang ditempuh. Misalnya untuk satu kilometer dikenakan sebesar 30 sen atau 10 sen untuk tiap satu menitnya. Itu merupakan ongkos sewaan di siang hari yang dimulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. Sedangkan untuk di malam hari ongkosnya 50 persen lebih tinggi dari ongkos di siang hari. Waktu malam hari dihitung mulai dari pukul 23.00 malam hingga 06.00 pagi besoknya.
 Harga ongkos semakin melonjak kalau sang penumpang minta diantar ke Pelabuhan Tanjung Priok. Jika diminta menunggu maka sang penumpang harus membayar 5 sen permenit dari pertama kali waktu harus menunggu. Hitungan ini di luar ongkos yang telah dipatok sebelumnya. Dengan situasi seperti tersebut, ajaibnya tidak ada terdengar kejadian sopir taksi dirampok saat itu.

 Keistimewaan lainnya dari taksi zaman dulu itu adalah para supirnya yang sangat patuh kepada peraturan yang ditetapkan pihak Kotapraja kala itu. Memang ada peraturan, selain wajib mengangkut penumpang di pangkalan taksi, mereka pun tidak dibenarkan merokok saat membawa penumpang. Bagaimana jika ada sopir taksi yang tetap membandel? Pihak Kotapraja tak segan-segan mencabut surat izin mengemudi (rijbewijs). Tentunya tanpa rijbewijs, mereka tak bisa mencari nafkah.

Sumber : Hendi Jo

Minggu, 09 Juni 2013

APRIL HITAM DI BATAVIA

Tugu peringatan tua itu berdiri kokoh. Tingginya sekitar 2 meter dengan warna putih pucat dimakan zaman. Tepat di puncak tugu tersebut, sebuah tengkorak terpancang lembing berdiri angker menantang langit. Persis di badan tengah tembok itu,sebuah tulisan kuno berbaris kaku.

 “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat Pieter Erberveld.Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722,”demikian kira-kira terjemahan bebas dari bunyi huruf-huruf berbahasa Belanda dan Jawa itu.


 Bersama ratusan nisan dan prasasti lainnya, tugu itu merupakan bagian dari Museum Prasasti, Jakarta Pusat. Aslinya benda tersebut berasal dari Kampung Pecah Kulit (sekarang Jalan Panggeran Jayakarta di Jakarta Utara). Namun sejak dijalankannya proyek relokasi oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1977, tembok berpenampilan angker itu dipindahkan ke sana. Lantas siapa Peter Erberveld yang disebut dalam prasasti itu?

 “Saya tidak tahu pasti.Katanya sih dia itu dulu salah satu pemberontak yang paling dibenci kompeni,”ujar Asim (50), salah seorang penjaga di Museum Prasasti.

 Keterangan Asim memang benar adanya. Adolf Heukeun dalam Historical Sites of Jakarta menyatakan pemberontakan Peter Erberveld memang tercatat dalam dokumentasi pemerintah Hindia Belanda. Cerita bermula dari sebuah peristiwa yang terjadi pada 1708.

 Saat itu, pemerintah VOC (maskapai perdagangan Hindia Timur yang merupakan wakil dari Kerajaan Belanda di Nusantara kala itu— lewat Dewan Hemradeen (Collage van Heemraden) menyita ratusan hektar tanah di Pondok Bambu atas nama kepemilikan Peter Erberverld.Alasannya, tanah itu tak memiliki akte yang disahkan oleh VOC.

 Pieter Erberveld adalah seorang Indo.Ayahnya bernama Peter Erberveld senior, seorang pengusaha kulit binatang yang berasal dari kota Elberfeld (kini merupakan bagian kota Wuppertal di negara bagian Nordrhein-Westphalen, Jerman).Ibu Pieter sendiri konon berasal dari Siam (Thailand). Namun berbeda dengan Heukeun, Alwi Sahab,sejarawan Betawi, menyebut sang ibu justru berasal dari Jawa.

 Bisa jadi karena setengah inlander, Pieter jadi memiliki hubungan baik dengan orang-orang pribumi. Itu dibuktikan saat terjadi penyitaan tanah oleh VOC, rakyat kebanyakan berdiri di belakangnya. Namun kendati didukung masyarakat banyak, VOC tetap bersikeras menyita tanah juragan Jerman itu. Alih-alih membebaskannya, Gubernur Joan van Hoorn malah menambah hukuman dengan mewajibkan Pieter menyerahkan denda 3300 ikat padi kepada VOC.

 Sejak peristiwa tersebut, Pieter memendam benci kepada VOC. Terlebih dalam menjalankan bisnisnya selain kerap licik dan kejam, maskapai dagang besar pertama di dunia itu juga bergelimang korupsi. Sebuah prilaku yang disebut oleh Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung,menjadi biang keladi kebangkrutan VOC pada 1799.

 *

 Insiden Pondok Bambu menjadikan hubungan antara Pieter dengan VOC berlangsung tegang dan penuh kecurigaan. Namun sebaliknya, di kalangan masyarakat pribumi, kejadian yang menimpa Pieter itu memunculkan sikap simpati yang lebih besar.Sebagai tanda hubungan baik itu berlangsung, Pieter sering berkunjung ke rumah-rumah masyarakat pribumi dan tak jarang mengadakan pertemuan di rumahnya yang terletak di kawasan yang sekarang bernama Kampung Pecah Kulit.

 Pertemuan demi pertemuan memunculkan rasa senasib dan sepenanggungan. Dari ikatan emosional itu entah dari mana datangnya lantas muncul hasrat untuk melakukan pemberontakan. Bersama seorang ningrat asal Banten, Raden Ateng Kartadriya dan 25 pengikutnya,Pieter merencanakan aksi pembangkangan.Hari H-nya: 31 Desember 1721,bertepatan dengan pesta malam tahun baru 1722.

 Selain berharap pada bantuan Kesultanan Banten yang sudah dikontak sebelumnya, pemberontakan itu juga rencananya akan melibatkan banyak bantuan dari berbagai pihak “Saya sendiri dan beberapa kawan sudah mengumpulkan 17.000 prajurit yang telah siap memasuki kota,” ujar Raden Kartadriya seperti ditulis Alwi Shahab dalam Batavia Kota Banjir.

 Namun mujur tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.Pemufakatan subversiv itu malah bocor sebelum waktunya kepada intelejen VOC. Lewat mulut seorang budak Pieter yang “bernyanyi”, Reykert Heere (Komisaris VOC untuk urusan bumiputera) bertindak cepat dengan menangkap 23 pelaku rencana pemberontakan tersebut termasuk Pieter dan Raden Kartadriya.

 Sekitar 4 bulan pasca penangkapan, Collage van Heemradeen Schepenen (Dewan Pejabat Tinggi Negara) memutuskan hukuman mati untuk Pieter dan para pengikutnya. Namun hukuman mati itu dilakukan dengan cara yang tidak biasa dan sangat kejam. Di sebuah lapangan sebelah selatan dekat Balai Kota, mereka menjalani hukuman sebagai pemberontak dengan punggung diikat pada sebuah salib, tangan kanan dibacok hingga putus, lengan dijepit, daging kaki dan dada dicungkil keluar.

 Seolah ingin lebih puas, jantung mereka dikeluarkan dan dilemparkan ke wajah para terhukum. Kepala dipancung dan tubuh mereka diikat oleh 4 ekor kuda yang berada pada 4 posisi arah mata angin. Begitu kuda-kuda tersebut dihela maka berpecahanlah tubuh dan kulit mereka ke 4 penjuru. Kepala mereka lantas ditancapkan pada sebuah tonggak di sebuah tempat di luar kota. Maksudnya agar menjadi makanan burung-burung sekaligus pembangkit efek jera kepada siapapun yang berniat melakukan pemberontakan terhadap VOC.

 “Kelak bekas tempat eksekusi Pieter dan kawan-kawanya disebut sebagai Kampung Pecah Kulit,”ujar Alwi Shahab.

 **

 Benarkah Pieter dan kawan-kawan bumiputeranya merencanakan sebuah pemberontakan berdarah? Secara pasti hanya Tuhan dan para pejabat tinggi VOC-lah yang tahu. Namun 200 tahun setelah eksekusi barbar itu, seorang sejarawan Belanda bernama Prof.Dr.E.C.Godee Molsbergen dalam De Nederlandsch Oostindische Compagnie in de Achtiende eeuw, menyebut Insiden Pieter Erberveld sebagai peristiwa berdarah yang sarat konspirasi politik.

 Selain faktor ketamakan ekonomi VOC, Prof.Godee menyatakan Insiden Pieter Erberveld terjadi karena adanya intrik dan nafsu politik di kalangan para pejabat maskapai dagang tersebut. Ia percaya bahwa isu rencana pemberontakan hanya bualan semata.Baginya tidaklah mungkin seorang Pieter yang terpelajar dan pintar berlaku sembrono dengan merencanakan kudeta tanpa persiapan dan serba mendadak.

 “Itu mungkin sekali, karena berbagai keadaan pada masa itu, orang tak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sengala rencana komplotan itu diperoleh dari hasil siksaan-siksaan,” ujar Prof.Godee dalam tulisan yang termuat dalam buku sejarah Geschiedenis van Nederlands Indie, jilid empat, himpunan Dr. F. W. Stapel itu.

 Menurut Kepala Kearsipan Negara di Hindia Belanda (1922-1937) itu, sekitar 3 minggu pasca komplotan Pieter diciduk, pemeriksaan intens dijalankan oleh Dewan Pejabat Tinggi Negara terhadap 23 orang. Termasuk Erberveld, Kartadriya dan Layeek, seorang lelaki asal Sumbawa yang merupakan terdakwa utama. Dalam pemeriksaan tersebut, ketiganya ngotot menyatakan diri tak merencanakan apapun.

 Landdrost (semacam jaksa) lantas mengambil jalan pintas untuk memunculkan pengakuan. Caranya Kartadriya digantungi timbangan. Anak timbangan pemberatnya terus menerus ditambah. Kemudian rambut kepalanya dipotong. Heeren Schepenen rupanya percaya, bahwa seperti halnya dengan perkara sihir, kekuatan seorang terdakwa untuk membisu terletak pada rambutnya. Semua usaha itu sia-sia sebab Kartadriya tetap bungkam.

 Lalu giliran Layeek. Begitu disiksa, orang Sumbawa itu lansung mengaku karena daya tahan fisik dan mentalnya tak setangguh Kartadriya. Menurut hasil “nyanyiannya” Pieter Erberveld memang telah membujuknya untuk menyusun rencana pemberontakan. Jika rencana itu berhasil, Pieter akan menjadi raja atau gubernur dan para pendukungnya akan mendapat ganjaran menurut partisipasi masing-masing dalam pemberontakan itu.

 Begitu pengakuan didapat, jaksa memerintahkan penyiksaan lebih sadis kepada Kartadriya dan Pieter. Usaha mereka tidak sia-sia, Pieter dan Kartadriya akhirnya mengaku salah karena tak tahan menghadapi siksaan yang makin kejam. Pieter mengiyakan bahwa dirinya dihasut oleh Kartadriya.

 Tidak hanya itu, Pieter pun mengungkapkan dokumen rencana komplotan itu disembunyikannya dalam sebuah peti yang tersimpan di lemari tua di rumahnya. Ia juga menyatakan telah mengadakan hubungan surat menyurat dengan putera Untung Suropati,pemberontak Bali di Kartasura. Dalam nada mengingau karena secara fisik dan mental sudah hancur lebur, Pieter menyebut sejumlah nama fiktif : 12 pangeran dari Banten serta 13 pangeran dan 3 orang raden dari Cirebon.

 ”Namun anehnya, kendati dicari secara teliti, tak sepucuk suratpun ditemukan dalam sebuah kotak di almari tua di rumah Pieter,”tulis Godee.

 Prof. Godee Molsbergen juga menyebut beberapa kenyataan yang tidak wajar dalam proses pengadilan itu. Menurutnya, perkara pengkhianatan yang tergolong criman leasae majestatis - kejahatan terhadap yang dipermuliakan- seharusnya diadili oleh Raad van Justitie, bukan oleh Collage van Heemraden.

 ”Untuk pelaksanaan hukuman mati pun tidak boleh di sembarang tempat, tetapi harus di tempat yang biasa di pakai oleh raad van Justitie. Dalam kasus Pieter Erberveld para terdakwa tidak diberi pembela. Harta milik para terdakwa tidak hanya disita separoh sebagaimana keputusan yang dijatuhkan, tetapi seluruhnya,”ujar sejarawan ahli Hindia Belanda itu.

 Konspirasi politik semakin kentara, kala beberapa hari setelah pembantaian Pieter dan kawan-kawannya dilakukan. Reykert Heere, pejabat VOC yang merasa mendapat info pertama tentang "pengkhianatan" Erberveld, minta balas jasa. VOC sigap dengan menaikan pangkat Rykert dari seorang Komisaris menjadi Opperkoopman (pembeli tertingi).Gajinya pun naik jadi 100 gulden sebulan.

 Kini hampir 300 tahun, tugu peringatan tua itu masih berdiri kokoh. Tingginya sekitar 2 meter dengan warna putih pucat dimakan zaman. Tepat di puncak tugu tersebut, sebuah tengkorak terpancang lembing berdiri angker menantang langit. Sebuah bentuk pemakluman atas hitamnya sejarah kemanusian di Batavia pada April 1722.

Sumber : Hendi Jo

Sabtu, 08 Juni 2013

JENDERAL BERPENAMPILAN JONGOS

Para jenderal lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang era 60-an dan 70-an pasti sangat mengenal Brigjen. Sahirdjan. Bekas Cudanco PETA itu tercatat sebagai instruktur paling lama mengajar di akademi militer (mulai dari namanya MA hingga AKABRI). Wajar, jika (saat itu) Letnan Kolonel Sahirdjan sangat akrab dengan para kadet (taruna). Saat berlangsung Perang Kemerdekaan, para kadet mengenal Sahirdjan sebagai sosok berpenampilan sederhana, humoris dan mahir menciptakan berbagai senjata darurat. Suatu hari saat para kadet terlibat dalam pelatihan militer semesta untuk rakyat Yogya, Sahirdjan berhasil membuat sejenis “senjata mutakhir” : senjata panah yang berujung detonator, suatu kombinasi persenjataan modern dengan tradisional. Dalam ideal pemikiran Sahirdjan, selain mudah dan efektif digunakan dalam perang gerilya, senjata ini pelurunya bisa ditembakan tanpa suara dan bila ujung panah berdetonatornya mengenai sasaran vital maka akan berakibat kematian sang musuh.


 Singkat cerita dicobalah senjata tersebut. Sebagai sasaran tembak adalah seekor kambing jantan, hasil sumbangan seorang penduduk. Di hadapan ratusan rakyat dan para kadet, Sahirdjan kemudian merentangkan busur. Semua penonton menahan nafas, saat anak panah tersebut melesat dari busur dan menghantam sang kambing…Dor! Kambing pun terkulai. Para penonton bersorak sorai seraya memberi tepuk tangan tiada henti. Sahirdjan tersenyum, para kadet tertawa bangga. Namun baru saja tepuk tangan riuh itu berhenti, tiba-tiba “kambing yang mampus” itu bangun kembali dan mengembik, siuman dari pingsannya. Spontan penonton kembali bertepuk tangan. Kali ini diiringi tawa lepas seolah tak henti. Sahirdjan sendiri sambil tersenyum menggaruk-garuk kepalanya walau tak gatal .

 Selain suka menelurkan ide-ide nyentrik, Sahirdjan pun dalam kehidupan sehari-hari sangat jauh dari kemewahan. Kendati sebagai instruktur senior di AKABRI, hal tersebut sebenarnya bisa saja ia wujudkan. Kata para jenderal dari AKABRI Angkatan 70-an yang pernah saya wawancara, kalau sudah buka seragam militer, Sahirdjan suka sekali memakai celana pendek dan kaos oblong yang lusuh. “Orang yang belum kenal beliau pasti menyangka beliau bukan seorang jenderal guru besar AKABRI,” kata seorang pejabat militer di Markas Besar Angkatan Darat yang beberapa tahun lalu saya temui.

 Soal kaos oblong dan celana pendek lusuh ini sempat membuat cerita heboh di kalangan taruna AKABRI pada era 70-an. Ceritanya, suatu hari seorang taruna AKABRI tingkat awal baru pulang dari cutinya dengan membawa oleh-oleh dan beberapa koper. Turun dari becak, sang taruna bingung harus mengangkat sendiri bawaannya tersebut. Dalam situasi demikian, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua kurus berpakaian celana pendek dan kaos oblong lusuh tak jauh dari tempat sang taruna turun dari becak. Pucuk dicinta ulam tiba, taruna tersebut langsung berseru:

 “Eh Pak…Pak! Tolong ini angkatkan kopor saya!”perintahnya.

 Lelaki kurus dan berpenampulan lusuh yang dipanggil tersebut cepat-cepat mendekat dan dengan sigap membantu mengangkat kopor hingga ruangan sang taruna. Begitu selesai, sang taruna berinsiatif memberi persen, namun dengan halus dan penuh hormat lelaki tersebut menolaknya. Usai “sang jongos” itu pergi, tiba-tiba beberapa taruna senior berhamburan mendekati juniornya yang baru pulang cuti itu. Salah seorang menghardik:

 “Lu tau siapa orang yang lu suruh membawa koper itu?!”

 “Siap! Tidak tau!”

 “Tau lu, dia adalah Pak Sahirdjan, Brigadir Jenderal dan Guru Besar kita!” Lemaslah sang prajurit tersebut dalam sesal.

Sumber : Hendi Jo

Jumat, 07 Juni 2013

PENERJUN PASUKAN KHUSUS BELANDA JATUH DI PEMUKIMAN PENDUDUK YOGYAKARTA (1948)

Para penerjun payung dari DST (Depot Speciaale Troepen atau sejenis Kopassus-nya Belanda) mendarat di tengah pemukiman penduduk dekat Lapangan Maguwo, Yogyakarta dan langsung menguasai Yogyakarta dari tangan pasukan TNI pada 19 Desember 1948. 


Mereka yang diterbangkan sejak pukul 02.00 dari Lanud Andir Bandung, kemudian secara cepat menguasai ibu kota RI tersebut serta menawan para pemimpinnya termasuk Sukarno-Hatta. TNI sendiri tak pernah menyangka Belanda akan menyerang pada hari itu, Ketika melihat beberapa pesawat B-25 Mitchell, P-51 Mustang dan pesawat penyergap P-40 Kittyhawk melayang di udara Jogja, alih-alih menembakan meriam penangkis serangan udara, sebagian dari mereka malah melambai-lambaikan tangan karena mengira pesawat-pesawat tersebut milik AURI (memang pada hari itu ada pengumuman latihan gabungan dari semua matra di tubuh TNI). 

Begitu rentetan senjata membahana barulah mereka sadar Belanda menyerang dan mereka tak memiliki kesiapan untuk membalasnya, kecuali sekitar 30 prajurit pangkalan Maguwo dan sekelompok pasukan tentara dari KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) yang secara berani sempat melakukan penghadangan dan penggangguan terhadap pasukan Kolonel Van Langen sebelum masuk ke Istana via Jalan Solo. Tapi Van Langen sebagai sinyo kelahiran Yogya yang lulusan Akademi Breda, cukup tahu bagaimana caranya menjepit pasukan bandel ini. Dia memecah pasukannya, salah satunya yang menerobos brikade TNIi via Kantor Pos. Pasukan inilah yang pada akhirnya berhasil menduduki Istana/Gedung Agung dengan lebih cepat dan menawan Soekarno-Hatta cs. 

Akibat serangan tiba-tiba itu, TNI kehilangan sekitar 40 prajuritnya, sedangkan korban dari pihak militer Belanda nol. Saat penerobosan dan penyerangan ke Istana itu, Van Langen sendiri yang memimpin pasukan tersebut langsung dari jeep wilys-nya. Sementara Jenderal Spoor mengikuti jalannya pertempuran via radio di pesawat komando. Konon, sebelum melakukan penyerangan yang dikenal sebagai Operasi Burung Gagak tersebut, Spoor yang kala itu mengenakan jaket kulit, kacamata hitam dan topi pet menyapa Kolonel Van Langen dengan salam dua jari yang mengisyaratkan simbol "victorie, tanda kemenangan.

Sumber : Hendi Jo


Kamis, 06 Juni 2013

SIAP-SIAP TAK KEMBALI


Seorang gerilyawan republik di wilayah Banyumas yang tertangkap (1948), tengah menunggu giliran diinterogasi oleh petugas IVG (Informatie voor Geheimen) IVG dikenal sebagai momok menakutkan bagi para gerilyawan republik yang tengah ada dalam tahanan militer Belanda. Para petugas dinas rahasia tentara Belanda ini merupakan tentara-tentara pilihan dari polisi militer (MP) Belanda. Mereka dikenal memiliki kecapakapan khusus di bidang psikologi dan teknik penyiksaan. Jarang ada gerilyawan republik yang kembali jika sudah diambil oleh IVG. Foto koleksi Museum Perang Leiden Belanda.

Sumber : Hendi Jo

UJUNG PETUALANGAN SEORANG KIRI

Akhir Oktober 1948, pemberontakan PKI Madiun berhasil digagalkan oleh tentara yang tetap setia kepada Sukarno-Hatta. Alih-alih mereorganisasi perlwanan , kekuatan komunis yang dipimpin oleh Musso itu malah kocar-kacir. Untuk menghindari pengejaran tentara pemerintah, Musso sendiri memutuskan menghilang. Dan untuk beberapa minggu upayanya itu berhasil: tentara pemerintah tak bisa mengendus keberadaan agen komunis internasional tersebut.


 Hingga tibalah pada 31 Oktober 1948. Para petugas keamanan Desa Balong mencurigai seorang lelaki priyayi dalam penampilan sederhana tengah berjalan seorang diri. Ketika dihentikan, awalnya lelaki tersebut sangat kooperatif. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kedua petugas tersebut dan memberikan selembar surat keterangan jalan. Namun ketika salah satu dari petugas itu merampas buntelan sarung yang ia bawa, tiba-tiba ia mengeluarkan sepucuk pistol dan langsung menembak sang perampas.

 Usai menembak, ia lantas kabur dengan sepeda ontel milik salah seorang petugas desa itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sebuah dokar dan di bawah ancaman pistol, kusir dokar tersebut dipaksa untuk membawanya dalam kecepatan tinggi. Dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia VIII, A.H. Nasution menceritakan tentara setempat kemudian cepat berkoordinasi menanggapi kejadian di Desa Balong itu.

 Sementara itu di tengah perjalanan, dokar yang ditumpangi lelaki yang tak lain adalah Musso tersebut berpapasan dengan sebuah mobil yang ditumpangi oleh serombongan prajurit dari Batalion Sunandar. Begitu melihat mobil tersebut, dengan sigap, Musso meloncat dan langsung menodongkan senjatanya ke arah para penumpang.

 Kendati para prajurit itu bersenjara, todongan senjata Musso lebih cepat. Terpaksalah mereka menuruti perintah Musso untuk meninggalkan mobil tersebut. Musso sendiri dengan cepat langsung duduk di belakang kemudi. Namun dasar sial, ketika distater mobil itu tiba-tiba tak mau hidup. Melihat situasi tersebut salah satu dari prajurit itu lantas meraih sten di bagian belakang mobil dan langsung menodongkannya ke arah Musso.

 "Keluar dari mobil dan menyerahlah!" teriaknya.

 Musso dengan tenang keluar dari ruang kemudi. Dalam tatapan tajam bak singa siap bertarung, ia justru membalas teriakan sang prajurit dengan kata-kata yang pelan namun tegas: "Engkau tahu siapa saya?! Saya Musso!Engkau baru kemarin jadi prajurit dan sekarang berani-beraninya meminta saya untuk menyerah pada engkau?! Tidak! Saya tidak akan menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah! Walau bagaimanapun saya tetap merah putih!"

 Menyaksikan sikap Musso yang sangat percaya diri dan berwibawa, para prajurit itu menjadi keder. Alih-alih memberondong tubuh Musso dengan sten, mereka justru melarikan diri menuju desa terdekat. Beberapa saat kemudian, perburuan pun dimulai. Musso yang melarikan diri ke sebuah kampung kemudian memilih sebuah kamar mandi untuk tempatnya bertahan sekaligus bersembunyi.

 Kapten Sumadi yang memimpin perburuan itu, lantas mengepung tempat tersebut dan meneriakan kata-kata agar Musso menyerahkan diri. Alih-alih menyerah, kata-kata Sumadi malah dijawab Musso dengan tembakan. Maka tanpa ampun para prajurit itu kemudian memberondong kamar mandi tersebut dan usai menghentikan tembakan beberapa menit kemudian, mereka menemukan tubuh sang pemimpin pemberontakan itu tengah terkapar dalam genangan darah. Musso kemudian diberitakan tewas. " Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo dan setelah dipertontonkan ke khalayak kemudian dibakar,"tulis Soe Hok Gie dalam skripsinya yang ia beri judul Simpang Kiri dari Sebuah Jalan:Kisah Pemberontakan Madiun September 1948.

Sumber : Hendi Jo

Selasa, 04 Juni 2013

PATROLI INGGRIS DAN LENCANA MERAH PUTIH

Akhir 1945 adalah masa-masa yang mencekam di Jakarta. Begitu Sekutu (terdiri dari serdadu Inggris, Australia dan Belanda) mendarat, Kaum Republiken (pendukung proklamasi) memilih untuk menyingkir ke luar kota, akibatnya sebagian Jakarta kosong dan hanya menyisakan para priyayi pro Belanda dan borjuis-borjuis kulit putih yang tinggal di kawasan elit Menteng. "Selain komunitas pro Belanda, Jakarta saat itu hanya terdiri dari kaum gerilyawan kota dan para bandit," ujar Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.


 Jika para gerilyawan kota memiliki aktivitas menyerang kedudukan serdadu-serdadu Sekutu dan berupaya merampas senjata-senjatanya, tidak begitu dengan para bandit. Hampir dipastikan mereka tiap malam beroperasi menggasak harta benda penduduk Jakarta yang mengungsi dan menggarong rumah-rumah di Menteng. Tak jarang juga terjadi praktek pemerkosaan dan pelecehan seks terhadap perempuan Indo dan kulit putih.

 Situasi tersebut mejadikan Jakarta mirip "kota liar dan tak bertuan" seperti dalam cerita koboy wild-wild west. Untuk mengantisipasi soal ini, Sekutu lantas menugaskan para tentaranya untuk memulihkan keamanan dengan cara melakukan patroli dan pemeriksaan rutin. Operasi pemulihan ini justru lebih banyak menciduk Kaum Republiken dibanding para bandit. Bahkan ada upaya dari pihak NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan Van Mook) menyamaratakan semua aksi orang bumiputera sebagai aksi-aksi kriminalitas.

 Ini adalah salah satu foto koleksi dari IWM, Inggris yang memperlihatkan sebuah patroli Sekutu dari unsur tentara Inggris tengah melakukan pemeriksaan rutin di wilayah Salemba."Kalau Inggris yang melakukan pemeriksaan tidak begitu khawatir kita, karena mereka melakukannya sopan dan tidak kasar. Beda dengan perlakuan dari serdadu-serdadu NICA yang terkenal kejam,"ujar Bustomi seorang mantan lasykar kepada saya beberapa waktu lalu.

 Soal perlakuan bengis ini memang bukan isapan jempol semata. Menurut Adam Malik, salah seorang pentolan pemuda Menteng Prapatan, para serdadu NICA selain kerap memukul dan menembak juga tak jarang menyiksa para pemuda di luar batas kewajaran. "Jika kadapatan ada pemuda yang memakai lencana merah putih, mereka akan memaksa sang pemuda tersebut menelan lencana tersebut. Tak peduli lencana itu terbuat dari kain atau kaleng..." tulis Adam Malik dalam Mengabdi Republik.

Sumber : Hendi Jo