Sumber : Hendi Jo
Pramuka Harus Menatap ke Depan
Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.
Pramuka Harus Menatap ke Depan
Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.
SBY Memakai Pakaian Pramuka
Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.
Senin, 17 Juni 2013
TUGU PANCORAN 1967
Sumber : Hendi Jo
Minggu, 16 Juni 2013
PATROLI TENTARA INGGRIS DI JALANAN JAKARTA
Sebuah tank M3 Stuart milik tentara Inggris tengah berpatroli di sekitar Jalan Matraman dan Jatinegara (dekat Komplek Militer Bearland sekarang), Jakarta pada awal 1946. Sementara di sisi kiri, sebuah trem yang dipenuhi penumpang meluncur seolah ingin berpacu dengan alusista era PD II tersebut.
Sumber : Hendi Jo
Sabtu, 15 Juni 2013
KORUPSI PERTAMA SEBUAH BANGSA
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang prilaku para pejuang dan lasykar yang kerjaannya “nyusahin” rakyat di daerah pendudukan selama Perang Kemerdekaan berlangsung (1945-1949). Mereka yang mengatasnamakan pejuang kemerdekaan, sesungguhnya hanya terdiri dari para “penumpang gelap” revolusi: berlaku gagah-gagahan tapi kerjaannya hanya merampok, menggarong dan memperkosa ( mayoritas korbannya perempuan-perempuan Belanda dan Indo).
Tapi sesungguhnya prilaku konyol dan merugikan itu bukan hanya milik para bawahan saja ataupun terbatas hanya prilaku kaum bersenjata semata. Laiknya hari ini, di tingkat pejabat, praktek penggarongan dalam nama korupsi pun juga terjadi. Bahkan dengan memakan korban jumlah uang yang lumayan banyak. Inilah salah satu kisahnya.
Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, ia tidak saja disambut secara gempita tapi juga didapuk oleh tokoh-tokoh setempat untuk menyebut sesuatu hal yang menjadi kebutuhan urgen dari pemerintah barunya. “Alangkah baiknya jika Indonesia mempunyai kapal udara untuk membuat pertahanan negara dan mempererat hubungan antara pulau dan pulau…”kata Sukarno seperti dituliskan oleh M. Nur El Ibrahimy dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia (1979).
Begitu keluar ucapan tersebut dari mulut Sukarno, tanpa banyak cakap, rakyat Aceh merogoh saku dan mencopot perhiasan yang ada di tubuh mereka. Begitu tingginya semangat untuk berkorban, hingga konon antrian para donatur (terdiri dari kalangan kaya maupun kalangan biasa) di beberapa masjid dan pusat pemerintahan Kotaradja (sekarang Banda Aceh) panjangnya sampai ratusan meter. Beberapa jam kemudian terkumpulah dana sebesar 120.000 straits dollar ditambah 20 kg emas.
Singkat cerita, dana itu kemudian diancer-ancer untuk membeli sebuah pesawat terbang. Sebagai pimpro dipilihlah Wiweko Soepono, penerbang senior Indonesia sekaligus salah satu direktur Garuda paling sukses sepanjang sejarah. Dengan bekal wessel 120.000 straitsdollar ia kemudian terbang untuk mencari pesawat di Thailand. Namun anehnya, saat Wiweko ke bank, mereka hanya bilang dana yang ada tinggal 60.000 straits dollar saja. Raib 50%!
Wiweko akhirnya mafhum, dirinya “dibokisin”. “Saya hanya menerima setengah dari dana sumbangan…,” ungkapnya ketika diwawancara oleh Majalah Angkasa pada tahun 2000.
Soal siapa yang bokis dalam masalah ini, Wiweko mengaku tak tahu sama sekali. Ia pun tak mau berspekulasi bahwa pemberi wessel (yang enggan ia sebut namanya) adalah penilep sebagian uang sumbangan itu. Untuk menghindari fitnah dan intrik, Wiweko memotokopi pencairan wessel tersebut. Hingga dirinya beranjak tua, fotokopi wessel itu tetap ia simpan.
Dengan uang 60.000 straits dollar, perwira Angkatan Udara Republik Indonesia itu berhasil membawa pulang sebuah Dakota DC-47B yang kemudian diberi nama Seulawah (artinya Gunung Emas). Nomor registrasi penerbangannya: RI-001. Pesawat itu kemudian secara resmi menjadi pesawat kepresidenan pertama sebelum beberapa tahun kemudian dikomersialisasi untuk melayani penerbangan sipil di Burma.
Lantas, bagaimana kabar uang 60.000 staits dollar dan 20 kg emas hasil sumbangan dari rakyat Aceh? Laiknya kasus-kasus mega korupsi yang terjadi kemudian, soal itu seolah sirna, tertumpuki cerita-cerita sejarah yang lainnya hingga orang-orang lupa sama sekali . Indonesia banget ya?
Sumber : Hendi Jo
Jumat, 14 Juni 2013
INI JENDERAL ATAU POHON NATAL?
Mendiang Jenderal Edi Sudradjat (mantan Menhan, Pangti ABRI dan Kasad) sering menyindir jenderal-jenderal ABRI yang doyan mememakai bintang jasa seabreg-abreg di pakaiannya sebagai "pohon natal berjalan"...Andaikan Pak Edi masih hidup apa komentarnya kepada jenderal2 Korea Utara di foto ini ya?
Sumber : Hendi Jo
Sumber : Hendi Jo
Kamis, 13 Juni 2013
GANJANG MALAYSIA DENGAN ANGKATAN KELIMA
Ini adalah foto dari majalah LIFE yang memperlihatkan barisan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani, onderbouw PKI) tengah latihan baris berbaris seraya membawa senjata jenis Tjung buatan RRT (Republik Rakjat Tiongkok) di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Aksi tersebut sebetulnya sangat tidak disukai oleh pihak AD (Angkatan Darat). Namun dengan alasan mempersiapkan sukarelawan KOGAM (Komando Ganjang Malaysia) maka dengan setengah hati pihak aparat mengizinkan kegiatan ini. Guna lebih mengorganisasikan perjuangan aksi ganyang Malaysia (atau lebih dikenal dengan Dwikora), PKI lewat Ketua Umum Dipa Nusantara Aidit telah membicarakan soal pembentukan Angkatan Kelima pada 14 Januari 1965 dengan Presiden Sukarno selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan Pemimpin Besar Revolusi di Istana Merdeka.
Sejarawan Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan tahun 1966, menyebut Angkatan Kelima sebagai inisiatif politik Aidit untuk melakukan semacam takeover atas suatu gagasan yang muncul sebelumnya pada kwartal terakhir tahun 1964. Syahdan, saat Bung Karno berkunjung ke Cina, ia mendapat masukan politik dari Pemimpin RRT Mao Zedong dan Perdana Menteri Chou En-lai untuk mempersenjatai buruh dan tani. Itu wajib hukumnya, kata mereka, supaya lebih menguatkan perjuangan melawan kaum imperialis dalam Operasi Dwikora, Bung Karno harus memiliki sejenis pasukan seperti Tentara Merah-nya Mao. Sebagai bentuk keseriusan RRT membantu terbentuknya Angkatan Kelima itu, Chou En-lai (disetujui oleh Mao) berkomitmen memberikan 100.000 pucuk senjata Tjung secara cuma-cuma kepada Indonesia. Diharapkan dengan bantuan senjata-senjata itu, Indonesia bisa membentuk sedikitnya 10 divisi bersenjata dari kalangan buruh an tani. "Terkesan pada mulanya Soekarno tertarik sedikit saja meskipun memperlihatkan sikap cukup menyambut baik gagasan itu dan untuk seberapa lama belum menunjukkan sikap persetujuan yang jelas. Agaknya, Presiden Soekarno masih memperhitungkan juga faktor reaksi dan sikap Angkatan Darat nantinya," tulis Rum Aly.
Sumber : Hendi Jo
Rabu, 12 Juni 2013
NASIB ANGGOTA PKI USAI OKTOBER 1965
Begitu insiden penculikan sekaligus pembunuhan 6 jenderal plus 1 perwira pertama Angkatan Darat di Lubang Buaya, Jakarta Timur meledak, hari-hari jahanam dilalaui oleh para angota Partai Komunis Indonesia (PKI). Laiknya binatang buruan, mereka dicari, dtangkap, disiksa dan dubunuhi. CIA menyerahkan 5000 nama yang harus dibersihkan pihak Angkatan Darat usai peristiwa itu. Apa lacur, 5000 tinggalah angka yang tak bisa dipegang, dalam kenyataannya korban tewas justru berlipat-lipat hingga angka 2 juta (menurut versi Komanda RPKAD Sarwo Edhie Wibowo (yang tak lain merupakan mertua Presiden SBY).
Ben Anderson menyebut angka yang lebih moderat: 500.000 jiwa melayang di Sumatera, Jawa, Bali, Nusatenggara dan Sulawesi. Begitu sistematisnya upaya genocide tersebut hingga orang-orang PKI tak bisa membuat pilihan selain mati dengan cara cepat. Tahun 1999, saya sempat melakukan reportase di wilayah Nganjuk dan mendapat keterangan mengerikan dari seorang warga di Desa Kemantren Plangkat bahwa saking pasrahnya orang-orang PKI menghadapi maut, mereka rela untuk antri saat akan dipenggal lehernya. "Antriannya mirip orang beli beras,"ujar nara sumber saya tersebut. Ini adalah foto seorang anggota PKI yang berhasil diciduk dari sebuah desa di Jawa Tengah pada sekitar akhir 1965. Sebuah realitas mengerikan yang tak layak diulang oleh bangsa ini.
Sumber : Hendi Jo
Selasa, 11 Juni 2013
DULU " BELA RAKYAT" SEKARANG MENINDAS RAKYAT
Liem Bian Koen alias Sofjan Wanandi merupakan aktivis terkemuka Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dari FEUI. Di zamannya ia dikenal sebagai aktivis vokal yang selalu terdepan memperjuangkan AMPERA (amanat penderitaan rakyat). Kini Liem menjadi pengusaha dan merupakan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang dikenal sangat tidak sensitif dengan kepentingan buruh. Beberapa hari lalu ia memprotes sekaligus mengancam Pemerintah DKI Jakarta yang menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta sebesar 40 persen. "Kami akan melakukan relokasi ke Jawa Tengah dan Jawa Timur yang upahnya masih sekitar 1 juta rupiah. Para pengusaha mencari lokasi di mana upah bisa menjadi lebih murah,” ujar Sofjan Wanandi.
Ancaman Liem Bian Koen ini sontak membuat Ahok naik pitam. Dengan gaya khasnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut menyilahkan Liem dan APINDO-nya untuk minggir. “Kita sudah bicara berapa kali kok. Tidak mungkin ketemu kalo bicara sama mereka (Apindo). Kalo dia ngotot di bawah KHL, kamu mau jadikan orang Jakarta budak kamu, apa?!” ujar Ahok dalam nada keras. Liem adalah contoh seorang mantan aktivis yang tak pernah lagi menengok pijakan dasar mengapa dia ada di posisi yang sekarang. Pidato-nya tentang amanat penderitaan rakyat di Kampus UI Salemba puluhan tahun yang lalu ternyata "pertumpahan air liur semata"...Sang demonstran lupa akan "niat baik hatinya" di masa lalu.
Sumber : Hendi Jo







