Pages

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.

SBY Memakai Pakaian Pramuka

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.

Jumat, 07 Juni 2013

PENERJUN PASUKAN KHUSUS BELANDA JATUH DI PEMUKIMAN PENDUDUK YOGYAKARTA (1948)

Para penerjun payung dari DST (Depot Speciaale Troepen atau sejenis Kopassus-nya Belanda) mendarat di tengah pemukiman penduduk dekat Lapangan Maguwo, Yogyakarta dan langsung menguasai Yogyakarta dari tangan pasukan TNI pada 19 Desember 1948. 


Mereka yang diterbangkan sejak pukul 02.00 dari Lanud Andir Bandung, kemudian secara cepat menguasai ibu kota RI tersebut serta menawan para pemimpinnya termasuk Sukarno-Hatta. TNI sendiri tak pernah menyangka Belanda akan menyerang pada hari itu, Ketika melihat beberapa pesawat B-25 Mitchell, P-51 Mustang dan pesawat penyergap P-40 Kittyhawk melayang di udara Jogja, alih-alih menembakan meriam penangkis serangan udara, sebagian dari mereka malah melambai-lambaikan tangan karena mengira pesawat-pesawat tersebut milik AURI (memang pada hari itu ada pengumuman latihan gabungan dari semua matra di tubuh TNI). 

Begitu rentetan senjata membahana barulah mereka sadar Belanda menyerang dan mereka tak memiliki kesiapan untuk membalasnya, kecuali sekitar 30 prajurit pangkalan Maguwo dan sekelompok pasukan tentara dari KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) yang secara berani sempat melakukan penghadangan dan penggangguan terhadap pasukan Kolonel Van Langen sebelum masuk ke Istana via Jalan Solo. Tapi Van Langen sebagai sinyo kelahiran Yogya yang lulusan Akademi Breda, cukup tahu bagaimana caranya menjepit pasukan bandel ini. Dia memecah pasukannya, salah satunya yang menerobos brikade TNIi via Kantor Pos. Pasukan inilah yang pada akhirnya berhasil menduduki Istana/Gedung Agung dengan lebih cepat dan menawan Soekarno-Hatta cs. 

Akibat serangan tiba-tiba itu, TNI kehilangan sekitar 40 prajuritnya, sedangkan korban dari pihak militer Belanda nol. Saat penerobosan dan penyerangan ke Istana itu, Van Langen sendiri yang memimpin pasukan tersebut langsung dari jeep wilys-nya. Sementara Jenderal Spoor mengikuti jalannya pertempuran via radio di pesawat komando. Konon, sebelum melakukan penyerangan yang dikenal sebagai Operasi Burung Gagak tersebut, Spoor yang kala itu mengenakan jaket kulit, kacamata hitam dan topi pet menyapa Kolonel Van Langen dengan salam dua jari yang mengisyaratkan simbol "victorie, tanda kemenangan.

Sumber : Hendi Jo


Kamis, 06 Juni 2013

SIAP-SIAP TAK KEMBALI


Seorang gerilyawan republik di wilayah Banyumas yang tertangkap (1948), tengah menunggu giliran diinterogasi oleh petugas IVG (Informatie voor Geheimen) IVG dikenal sebagai momok menakutkan bagi para gerilyawan republik yang tengah ada dalam tahanan militer Belanda. Para petugas dinas rahasia tentara Belanda ini merupakan tentara-tentara pilihan dari polisi militer (MP) Belanda. Mereka dikenal memiliki kecapakapan khusus di bidang psikologi dan teknik penyiksaan. Jarang ada gerilyawan republik yang kembali jika sudah diambil oleh IVG. Foto koleksi Museum Perang Leiden Belanda.

Sumber : Hendi Jo

UJUNG PETUALANGAN SEORANG KIRI

Akhir Oktober 1948, pemberontakan PKI Madiun berhasil digagalkan oleh tentara yang tetap setia kepada Sukarno-Hatta. Alih-alih mereorganisasi perlwanan , kekuatan komunis yang dipimpin oleh Musso itu malah kocar-kacir. Untuk menghindari pengejaran tentara pemerintah, Musso sendiri memutuskan menghilang. Dan untuk beberapa minggu upayanya itu berhasil: tentara pemerintah tak bisa mengendus keberadaan agen komunis internasional tersebut.


 Hingga tibalah pada 31 Oktober 1948. Para petugas keamanan Desa Balong mencurigai seorang lelaki priyayi dalam penampilan sederhana tengah berjalan seorang diri. Ketika dihentikan, awalnya lelaki tersebut sangat kooperatif. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kedua petugas tersebut dan memberikan selembar surat keterangan jalan. Namun ketika salah satu dari petugas itu merampas buntelan sarung yang ia bawa, tiba-tiba ia mengeluarkan sepucuk pistol dan langsung menembak sang perampas.

 Usai menembak, ia lantas kabur dengan sepeda ontel milik salah seorang petugas desa itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sebuah dokar dan di bawah ancaman pistol, kusir dokar tersebut dipaksa untuk membawanya dalam kecepatan tinggi. Dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia VIII, A.H. Nasution menceritakan tentara setempat kemudian cepat berkoordinasi menanggapi kejadian di Desa Balong itu.

 Sementara itu di tengah perjalanan, dokar yang ditumpangi lelaki yang tak lain adalah Musso tersebut berpapasan dengan sebuah mobil yang ditumpangi oleh serombongan prajurit dari Batalion Sunandar. Begitu melihat mobil tersebut, dengan sigap, Musso meloncat dan langsung menodongkan senjatanya ke arah para penumpang.

 Kendati para prajurit itu bersenjara, todongan senjata Musso lebih cepat. Terpaksalah mereka menuruti perintah Musso untuk meninggalkan mobil tersebut. Musso sendiri dengan cepat langsung duduk di belakang kemudi. Namun dasar sial, ketika distater mobil itu tiba-tiba tak mau hidup. Melihat situasi tersebut salah satu dari prajurit itu lantas meraih sten di bagian belakang mobil dan langsung menodongkannya ke arah Musso.

 "Keluar dari mobil dan menyerahlah!" teriaknya.

 Musso dengan tenang keluar dari ruang kemudi. Dalam tatapan tajam bak singa siap bertarung, ia justru membalas teriakan sang prajurit dengan kata-kata yang pelan namun tegas: "Engkau tahu siapa saya?! Saya Musso!Engkau baru kemarin jadi prajurit dan sekarang berani-beraninya meminta saya untuk menyerah pada engkau?! Tidak! Saya tidak akan menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah! Walau bagaimanapun saya tetap merah putih!"

 Menyaksikan sikap Musso yang sangat percaya diri dan berwibawa, para prajurit itu menjadi keder. Alih-alih memberondong tubuh Musso dengan sten, mereka justru melarikan diri menuju desa terdekat. Beberapa saat kemudian, perburuan pun dimulai. Musso yang melarikan diri ke sebuah kampung kemudian memilih sebuah kamar mandi untuk tempatnya bertahan sekaligus bersembunyi.

 Kapten Sumadi yang memimpin perburuan itu, lantas mengepung tempat tersebut dan meneriakan kata-kata agar Musso menyerahkan diri. Alih-alih menyerah, kata-kata Sumadi malah dijawab Musso dengan tembakan. Maka tanpa ampun para prajurit itu kemudian memberondong kamar mandi tersebut dan usai menghentikan tembakan beberapa menit kemudian, mereka menemukan tubuh sang pemimpin pemberontakan itu tengah terkapar dalam genangan darah. Musso kemudian diberitakan tewas. " Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo dan setelah dipertontonkan ke khalayak kemudian dibakar,"tulis Soe Hok Gie dalam skripsinya yang ia beri judul Simpang Kiri dari Sebuah Jalan:Kisah Pemberontakan Madiun September 1948.

Sumber : Hendi Jo

Selasa, 04 Juni 2013

PATROLI INGGRIS DAN LENCANA MERAH PUTIH

Akhir 1945 adalah masa-masa yang mencekam di Jakarta. Begitu Sekutu (terdiri dari serdadu Inggris, Australia dan Belanda) mendarat, Kaum Republiken (pendukung proklamasi) memilih untuk menyingkir ke luar kota, akibatnya sebagian Jakarta kosong dan hanya menyisakan para priyayi pro Belanda dan borjuis-borjuis kulit putih yang tinggal di kawasan elit Menteng. "Selain komunitas pro Belanda, Jakarta saat itu hanya terdiri dari kaum gerilyawan kota dan para bandit," ujar Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949.


 Jika para gerilyawan kota memiliki aktivitas menyerang kedudukan serdadu-serdadu Sekutu dan berupaya merampas senjata-senjatanya, tidak begitu dengan para bandit. Hampir dipastikan mereka tiap malam beroperasi menggasak harta benda penduduk Jakarta yang mengungsi dan menggarong rumah-rumah di Menteng. Tak jarang juga terjadi praktek pemerkosaan dan pelecehan seks terhadap perempuan Indo dan kulit putih.

 Situasi tersebut mejadikan Jakarta mirip "kota liar dan tak bertuan" seperti dalam cerita koboy wild-wild west. Untuk mengantisipasi soal ini, Sekutu lantas menugaskan para tentaranya untuk memulihkan keamanan dengan cara melakukan patroli dan pemeriksaan rutin. Operasi pemulihan ini justru lebih banyak menciduk Kaum Republiken dibanding para bandit. Bahkan ada upaya dari pihak NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda bentukan Van Mook) menyamaratakan semua aksi orang bumiputera sebagai aksi-aksi kriminalitas.

 Ini adalah salah satu foto koleksi dari IWM, Inggris yang memperlihatkan sebuah patroli Sekutu dari unsur tentara Inggris tengah melakukan pemeriksaan rutin di wilayah Salemba."Kalau Inggris yang melakukan pemeriksaan tidak begitu khawatir kita, karena mereka melakukannya sopan dan tidak kasar. Beda dengan perlakuan dari serdadu-serdadu NICA yang terkenal kejam,"ujar Bustomi seorang mantan lasykar kepada saya beberapa waktu lalu.

 Soal perlakuan bengis ini memang bukan isapan jempol semata. Menurut Adam Malik, salah seorang pentolan pemuda Menteng Prapatan, para serdadu NICA selain kerap memukul dan menembak juga tak jarang menyiksa para pemuda di luar batas kewajaran. "Jika kadapatan ada pemuda yang memakai lencana merah putih, mereka akan memaksa sang pemuda tersebut menelan lencana tersebut. Tak peduli lencana itu terbuat dari kain atau kaleng..." tulis Adam Malik dalam Mengabdi Republik.

Sumber : Hendi Jo


Senin, 03 Juni 2013

KAPAL SELAM MINI BUATAN PABRIK WATSON

Di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), persenjataan ibarat emas. Dibandingkan militer Belanda, alutsista (alat utama system persenjataan) militer Indonesia jelas tak ada apa-apanya. Selain mengandalkan rampasan dari tentara Jepang, Inggris dan Belanda serta pembelian di pasar gelap, militer Indonesia juga berinsiatif memproduksi sendiri system persenjataanya. Menurut keterangan Letjen (purn) Sayidiman, setidaknya ada dua “pabrik senjata” yang tersohor saat itu. Pertama, namanya Watson, sebuah pabrik besi dan rongsokan yang kemudian disulap menjadi pabrik alusista darurat. Kedua yakni “pabrik senjata” Demakijo, sebuah produsen senjata yang tadinya merupakan pabrik gula. Kedua “pabrik senjata” tersebut berada di kawasan Yogyakarta.

 Kendati sangat berguna, produk-produk “abal-abal” yang meniru Stendgun, karaben Qirov, ranjau darat, granat gombyok penggunaannya memang jauh dari harapan. Tak jarang senjata-senjata itu macet di tengah pertempuran atau tiba-tiba larasnya menjadi bengkok (karena tak kuat menahan panas mesiu dari peluru yang terus diberondongkan). Bahkan granat gombyok (granat berekor seperti buntut kuda) sering memakan korban putusnya tangan sang pelempar, karena api yang disulut lewat ekornya keburu mencapai detonantor sebelum dilepar ke sasaran musuh dan meledak di tangan.

 Namun apa daya, proyek Watson dan Demakijo tetap dilanjutkan. Pada sekitar pertengahan tahun 1948, Watson mendapat order proyek dari Kementerian Pertahanan RI untuk membuat sejenis kapal selam mini. Menurut Drs Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949, kehadiran kapal selam mini ini diperlukan untuk menghancurkan kapal-kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang bertugas memblokade pergerakan di laut-laut sekitar Pulau Jawa.

 Maka dipanggillah seorang perwira ALRI bernama J. Gigan. Ia merupakan alumni Akademi Angkatan Laut Den Helder Belanda. Selama Perang Dunia II berkecamuk, ia berdinas di kesatuan mariner Belanda. Begitu mendengar Indonesia merdeka, Gigan lantas keluar dari Marinir Belanda dan pulang ke tanah air untuk bergabung dengan para gerilayawan.

 Percobaan pertama kapal selam mini tersebut dilakukan di Kalibayem, yang terletak di sebelah barat Yogyakarta. Kapal selama yang digerakan oleh mesin truck ini saat percobaan berhasil bergerak, mengapung dan menyelam. Tetapi ketika torpedonya diijicoba untuk ditembakan, tiba-tiba handel pengikatnya tak mau lepas dan torpedo tetap terikat di tempatnya semula. Akibatnya sungguh fatal: kapal selam mini yang hanya diawaki oleh satu manusia saja itu malah ikut terseret oleh dorongan torpedonya. Maka gagalah proyek rahasia itu.

 J. Gigan sendiri berusaha memperbaiki kelemahan kapal selam made in Watson tersebut. Namun sebelum hasil sempurna dicapai, pada 19 Desember 1948, militer Belanda menyerbu Yogyakarta dan merampas semua alutsista yang berada di Watson dan Demakijo. Termasuk kapal selam mini yang tadinya diangankan bisa membuat geger Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu.

Sumber : Hendi Jo


Minggu, 02 Juni 2013

HARAPAN SEORANG PROFESOR TUA

Suatu hari di bulan November, saya pernah mengunjunginya. Di sebuah ruang kecil Gedung 8, Kampus UI saya terlibat perbincangan asyik dengannya, seorang perempuan sepuh yang dengan kegairahan luar biasa tak henti bicara sambil tangan tuanya sibuk membuka lembaran-lembaran sebuah buku. Begitu sampai di lembaran tengah, tangannya berhenti, lantas ia diam sejenak.

 ”Coba kamu lihat, nasib naskah-naskah tua kita...” ujarnya lirih, sembari menunjuk sebuah foto hitam putih kusam bergambar satu peti naskah tua yang berserakan dan rombeng dimakan rayap.

 Bagi Prof. Dr. Achadiati Ikram, nilai naskah-naskah tua itu melebihi emas dan permata.Tapi tidak bagi sebagian besar masyarakat kita dan pemerintah Indonesia. Buktinya, hingga saat ini ribuan naskah kuno banyak yang terbengkalai di pelosok-pelosok kampung. Bahkan menurut kabar, banyak naskah tua kita yang "bermigrasi" ke luar negeri, tempat di mana naskah-naskah tua itu diperlakukan secara layak dan dipelajari isinya.

 Saya ingat, dulu waktu di Bukittinggi ada seseorang pernah menyatakan kepada saya sebagai pemburu naskah tua. Ia bisa menjual hasil buruannya itu ke ilmuwan-ilmuwan luar negeri,"Kalau naskah tua berbahasa Melayu saya selalu senang menjualnya kepada orang Malaysia, mereka bisa bayar hingga 5 jutaan pernaskah,"ujarnya. seorang kawan saya di Tempo, pernah menyebut sekitar 40-an naskah tua (sebagian besar dari Riau dan Jambi) yang isinya berkisar tentang sejarah, pengobatan, tata negara, politik, agama, sastra kini tengah diteliti secara khusus oleh para ilmuwan Malaysia.

 Jatuhnya naskah-naskah tua nan penting itu ke tangan "orang lain" sangat "ditangisi" oleh orang seperti oleh Prof. Achadiati. ”Tanpa naskah-naskah tua itu, bisa jadi kita akan kehilangan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang pernah berjaya,” kata Ketua Yayasan Naskah Nusantara (Yanasa) itu.

 Achadiati bercerita, suatu hari ia bersua dengan seorang mantan mahasiswanya yang baru datang melanjutkan studi di Prancis. Sang mantan mahasiswa menyatakan betapa dirinya sangat sedih dan malu kala teman-teman Prancis-nya dengan bangga berkisah tentang sejarah bangsanya.

 ”Lantas kenapa kamu harus bersedih dan malu?” tanya Achdiati.

 ”Karena saya tidak mengetahui sejarah bangsa saya sendiri, seperti mereka mengetahui sejarah bangsanya,” jawabnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengetahui dan bisa berkisah seperti mahasiswa-mahasiswa Prancis itu?

 Pertama kali dan jalan awal supaya seperti itu, menurut Achadiati, tak lain adalah dengan membiasakan membaca. Dengan membaca, cakrawala pengetahuan terbentang di depan mata. ”Makanya, saya merasa heran dan prihatin, saat mendengar pernyataan seorang artis muda di televisi bahwa dirinya tidak suka membaca,” kata alumni Fakultas Sastra UI itu.

 Achadiati wajar merasa heran. Secara pribadi, ia sangat paham ”nikmat” dan manfaatnya membaca. Bahkan, dari tradisi membaca itu pula, ia kini dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling senior di Indonesia dalam bidang filologi. Itu adalah sebuah bentuk pendekatan ilmu yang meneliti sekaligus memerifikasi naskah-naskah lama.

 Persinggungan Achadiati dengan dunia naskah tua, diawali dengan kecintaannya menyimak mata pelajaran sejarah dari seorang gurunya di SMA Panti Parahma Surakarta. Saat itu, sekitar akhir 1940-an, tahun-tahun kala revolusi kemerdekaan berkecamuk. Banyak mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang menyingkir ke Surakarta. Sambil bergerilya, banyak di antaranya nyambi menjadi guru di sekolah-sekolah Surakarta.

 ”Nah, guru sejarah saya itu adalah salah seorang dari mahasiswa-mahasiswa UGM tersebut,” kenang Achadiati.

 Selesai SMA pada 1950, minat Achadiati terhadap sejarah semakin besar. Maka dipilihlah Fakultas Sastra UI sebagai tempat melanjutkan pendidikannya. Setelah 6 tahun mengenyam bangku kuliah, ia lulus sebagai sarjana sastra. Karier kerjanya kemudian diawali dengan menjadi dosen di almamaternya, hingga ia diangkat sebagai guru besar filologi di Fakultas Sastra UI pada 1978.

 Kini, ia sudah menghasilkan 7 karya ilmiah yang beberapa di antaranya adalah terjemahan dari naskah-naskah tua di Indonesia. Semua naskah itu berbahasa daerah, seperti Aceh, Minangkabau, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Ambon, Buton, Bugis dan Bima.

 Menurut dia, di Indonesia naskah yang berhasil diterjemahkan baru sebagian kecil saja. Sisanya masih terserak dari Aceh hingga Sumbawa. ”Bisa jadi jumlahnya puluhan ribu,” ungkap penulis Hikayat Sri Rama, Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur itu.

 Karena itu, wajar jika Achadiati mengharapkan munculnya generasi muda di dunia filologi Indonesia. Sebuah harapan yang ia sendiri kurang begitu yakin bisa terwujud secara cepat. Sebabnya jelas. Alih-alih menerjemahkan naskah, untuk membaca saja, anak-anak muda zaman sekarang tidak berusaha membiasakannya.

 ”Padahal, kalau mereka tahu, dari membaca naskah-naskah tua itu, betapa kayanya Indonesia dengan sejarah, arsitektur, pengobatan, karya sastra, tata negara dan ilmu-ilmu lainnya,” katanya.

 Matahari November masih beringsut malu-malu di atas Kampus Universitas Indonesia, Depok. Cahayanya kadang hilang kadang muncul bersanding dengan suara burung yang bergemerisik di balik pepohonan. Di sebuah ruang kecil Gedung 8, seorang perempuan sepuh tengah asyik membuka lembaran-lembaran sebuah buku. Begitu sampai di lembaran tengah, tangannya berhenti, lantas ia berkata dalam nada riang:

 ”Tapi saya masih memiliki harapan kepada sebagian kecil anak-anak muda sekarang. Seperti dia itu,” ujar sang filologis sembari menunjuk seorang gadis muda yang tengah bergelut dengan buku-buku di ruangan tersebut. Ya ia seolah tengah menunjuk potret dirinya di masa lalu.

Sumber : Hendi Jo

Sabtu, 01 Juni 2013

GEMPA BESAR AWAL ABAD

Andaikan anda memiliki kesempatan untuk ke Bandung melalui jalur Bogor-Puncak-Cianjur, maka di kawasan tapal kuda Cugenang pas sebelah kiri ada sebuah gunung (lebih tepat sebenarnya dinamakan bukit besar) yang dinamakan Gunung Rasamala. Sekitar 3 tahun lalu, saya pernah datang ke sana untuk keperluan riset tentang sejarah sebuah kampung yang ada di bawah kaki Gunung Gede.


 Hampir semua orang tua di sana berkata kepada saya bahwa Gunung Rasamala pernah terbelah secara tiba-tiba. “Itu kata orang-orang tua, kejadiannya pas zaman Walanda kahiji (era Hindia Belanda maksudnya),”ujar Apih Iyang (72). Karena “terbelahnya Gunung Rasamala” inilah, Pemerintah Hindia Belanda sampai memerintahkan para penduduk yang ada di sekitar kawasan tersebut untuk pindah ke selatan jalan raya pos Cugenang, tepat di timur kaki Gunung Gede.

 Saya sungguh penasaran dengan peristiwa aneh itu. Pulang ke Jakarta, dengan segala cara saya cari tentang info-info seputar terbelahnya gunung Rasamala tersebut. Kenapa sih sebab sebenarnya?

 Tak ada informasi yang jelas saya temukan untuk menjawab pertanyaan itu. Di Perpustakaan Nasional, saya hanya menemukan sebuah catatan dari Dr.Visser (1922) dalam On Land Earthquakes 1600-1921. Di buku ini, ia menulis sedikit tentang Cianjur yang merupakan bagian daerah yang pernah dilanda gempa sangat hebat pada 28 Maret 1879 dan 14 Januari 1900. Dan memang, ketika menjenguk foto-foto lama di situs milik KITLV Belanda, saya menyaksikan betapa hebatnya akibat gempa tersebut hingga menyebabkan rumah-rumah penduduk rata menjadi tanah. Adakah ‘terbelahnya’ Gunung Rasamala disebabkan oleh gempa yang berdaya besar tersebut? Sepertinya saya perlu waktu sangat khusus menyelidik soal itu. Atau ada sejarawan beneran yang berminat mencari jawaban dari pertanyaan itu?

Sumber : Hendi Jo