Pages

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Salah satu foto dalam Peringatan Hari Pramuka Ke-51 Tahun 2012.

Pramuka Harus Menatap ke Depan

Sebagai seorang pramuka, kita harus selalu menatap masa depan yang lebih cerah.

SBY Memakai Pakaian Pramuka

Sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan, Bpk. SBY sangat sibuk, tetapi beliau mau menggunakan pakaian pramuka disela-sela HUT Pramuka.

Senin, 03 Juni 2013

KAPAL SELAM MINI BUATAN PABRIK WATSON

Di era Perang Kemerdekaan (1945-1949), persenjataan ibarat emas. Dibandingkan militer Belanda, alutsista (alat utama system persenjataan) militer Indonesia jelas tak ada apa-apanya. Selain mengandalkan rampasan dari tentara Jepang, Inggris dan Belanda serta pembelian di pasar gelap, militer Indonesia juga berinsiatif memproduksi sendiri system persenjataanya. Menurut keterangan Letjen (purn) Sayidiman, setidaknya ada dua “pabrik senjata” yang tersohor saat itu. Pertama, namanya Watson, sebuah pabrik besi dan rongsokan yang kemudian disulap menjadi pabrik alusista darurat. Kedua yakni “pabrik senjata” Demakijo, sebuah produsen senjata yang tadinya merupakan pabrik gula. Kedua “pabrik senjata” tersebut berada di kawasan Yogyakarta.

 Kendati sangat berguna, produk-produk “abal-abal” yang meniru Stendgun, karaben Qirov, ranjau darat, granat gombyok penggunaannya memang jauh dari harapan. Tak jarang senjata-senjata itu macet di tengah pertempuran atau tiba-tiba larasnya menjadi bengkok (karena tak kuat menahan panas mesiu dari peluru yang terus diberondongkan). Bahkan granat gombyok (granat berekor seperti buntut kuda) sering memakan korban putusnya tangan sang pelempar, karena api yang disulut lewat ekornya keburu mencapai detonantor sebelum dilepar ke sasaran musuh dan meledak di tangan.

 Namun apa daya, proyek Watson dan Demakijo tetap dilanjutkan. Pada sekitar pertengahan tahun 1948, Watson mendapat order proyek dari Kementerian Pertahanan RI untuk membuat sejenis kapal selam mini. Menurut Drs Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949, kehadiran kapal selam mini ini diperlukan untuk menghancurkan kapal-kapal perusak Angkatan Laut Kerajaan Belanda yang bertugas memblokade pergerakan di laut-laut sekitar Pulau Jawa.

 Maka dipanggillah seorang perwira ALRI bernama J. Gigan. Ia merupakan alumni Akademi Angkatan Laut Den Helder Belanda. Selama Perang Dunia II berkecamuk, ia berdinas di kesatuan mariner Belanda. Begitu mendengar Indonesia merdeka, Gigan lantas keluar dari Marinir Belanda dan pulang ke tanah air untuk bergabung dengan para gerilayawan.

 Percobaan pertama kapal selam mini tersebut dilakukan di Kalibayem, yang terletak di sebelah barat Yogyakarta. Kapal selama yang digerakan oleh mesin truck ini saat percobaan berhasil bergerak, mengapung dan menyelam. Tetapi ketika torpedonya diijicoba untuk ditembakan, tiba-tiba handel pengikatnya tak mau lepas dan torpedo tetap terikat di tempatnya semula. Akibatnya sungguh fatal: kapal selam mini yang hanya diawaki oleh satu manusia saja itu malah ikut terseret oleh dorongan torpedonya. Maka gagalah proyek rahasia itu.

 J. Gigan sendiri berusaha memperbaiki kelemahan kapal selam made in Watson tersebut. Namun sebelum hasil sempurna dicapai, pada 19 Desember 1948, militer Belanda menyerbu Yogyakarta dan merampas semua alutsista yang berada di Watson dan Demakijo. Termasuk kapal selam mini yang tadinya diangankan bisa membuat geger Angkatan Laut Kerajaan Belanda itu.

Sumber : Hendi Jo


Minggu, 02 Juni 2013

HARAPAN SEORANG PROFESOR TUA

Suatu hari di bulan November, saya pernah mengunjunginya. Di sebuah ruang kecil Gedung 8, Kampus UI saya terlibat perbincangan asyik dengannya, seorang perempuan sepuh yang dengan kegairahan luar biasa tak henti bicara sambil tangan tuanya sibuk membuka lembaran-lembaran sebuah buku. Begitu sampai di lembaran tengah, tangannya berhenti, lantas ia diam sejenak.

 ”Coba kamu lihat, nasib naskah-naskah tua kita...” ujarnya lirih, sembari menunjuk sebuah foto hitam putih kusam bergambar satu peti naskah tua yang berserakan dan rombeng dimakan rayap.

 Bagi Prof. Dr. Achadiati Ikram, nilai naskah-naskah tua itu melebihi emas dan permata.Tapi tidak bagi sebagian besar masyarakat kita dan pemerintah Indonesia. Buktinya, hingga saat ini ribuan naskah kuno banyak yang terbengkalai di pelosok-pelosok kampung. Bahkan menurut kabar, banyak naskah tua kita yang "bermigrasi" ke luar negeri, tempat di mana naskah-naskah tua itu diperlakukan secara layak dan dipelajari isinya.

 Saya ingat, dulu waktu di Bukittinggi ada seseorang pernah menyatakan kepada saya sebagai pemburu naskah tua. Ia bisa menjual hasil buruannya itu ke ilmuwan-ilmuwan luar negeri,"Kalau naskah tua berbahasa Melayu saya selalu senang menjualnya kepada orang Malaysia, mereka bisa bayar hingga 5 jutaan pernaskah,"ujarnya. seorang kawan saya di Tempo, pernah menyebut sekitar 40-an naskah tua (sebagian besar dari Riau dan Jambi) yang isinya berkisar tentang sejarah, pengobatan, tata negara, politik, agama, sastra kini tengah diteliti secara khusus oleh para ilmuwan Malaysia.

 Jatuhnya naskah-naskah tua nan penting itu ke tangan "orang lain" sangat "ditangisi" oleh orang seperti oleh Prof. Achadiati. ”Tanpa naskah-naskah tua itu, bisa jadi kita akan kehilangan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang pernah berjaya,” kata Ketua Yayasan Naskah Nusantara (Yanasa) itu.

 Achadiati bercerita, suatu hari ia bersua dengan seorang mantan mahasiswanya yang baru datang melanjutkan studi di Prancis. Sang mantan mahasiswa menyatakan betapa dirinya sangat sedih dan malu kala teman-teman Prancis-nya dengan bangga berkisah tentang sejarah bangsanya.

 ”Lantas kenapa kamu harus bersedih dan malu?” tanya Achdiati.

 ”Karena saya tidak mengetahui sejarah bangsa saya sendiri, seperti mereka mengetahui sejarah bangsanya,” jawabnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengetahui dan bisa berkisah seperti mahasiswa-mahasiswa Prancis itu?

 Pertama kali dan jalan awal supaya seperti itu, menurut Achadiati, tak lain adalah dengan membiasakan membaca. Dengan membaca, cakrawala pengetahuan terbentang di depan mata. ”Makanya, saya merasa heran dan prihatin, saat mendengar pernyataan seorang artis muda di televisi bahwa dirinya tidak suka membaca,” kata alumni Fakultas Sastra UI itu.

 Achadiati wajar merasa heran. Secara pribadi, ia sangat paham ”nikmat” dan manfaatnya membaca. Bahkan, dari tradisi membaca itu pula, ia kini dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling senior di Indonesia dalam bidang filologi. Itu adalah sebuah bentuk pendekatan ilmu yang meneliti sekaligus memerifikasi naskah-naskah lama.

 Persinggungan Achadiati dengan dunia naskah tua, diawali dengan kecintaannya menyimak mata pelajaran sejarah dari seorang gurunya di SMA Panti Parahma Surakarta. Saat itu, sekitar akhir 1940-an, tahun-tahun kala revolusi kemerdekaan berkecamuk. Banyak mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang menyingkir ke Surakarta. Sambil bergerilya, banyak di antaranya nyambi menjadi guru di sekolah-sekolah Surakarta.

 ”Nah, guru sejarah saya itu adalah salah seorang dari mahasiswa-mahasiswa UGM tersebut,” kenang Achadiati.

 Selesai SMA pada 1950, minat Achadiati terhadap sejarah semakin besar. Maka dipilihlah Fakultas Sastra UI sebagai tempat melanjutkan pendidikannya. Setelah 6 tahun mengenyam bangku kuliah, ia lulus sebagai sarjana sastra. Karier kerjanya kemudian diawali dengan menjadi dosen di almamaternya, hingga ia diangkat sebagai guru besar filologi di Fakultas Sastra UI pada 1978.

 Kini, ia sudah menghasilkan 7 karya ilmiah yang beberapa di antaranya adalah terjemahan dari naskah-naskah tua di Indonesia. Semua naskah itu berbahasa daerah, seperti Aceh, Minangkabau, Batak, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Ambon, Buton, Bugis dan Bima.

 Menurut dia, di Indonesia naskah yang berhasil diterjemahkan baru sebagian kecil saja. Sisanya masih terserak dari Aceh hingga Sumbawa. ”Bisa jadi jumlahnya puluhan ribu,” ungkap penulis Hikayat Sri Rama, Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur itu.

 Karena itu, wajar jika Achadiati mengharapkan munculnya generasi muda di dunia filologi Indonesia. Sebuah harapan yang ia sendiri kurang begitu yakin bisa terwujud secara cepat. Sebabnya jelas. Alih-alih menerjemahkan naskah, untuk membaca saja, anak-anak muda zaman sekarang tidak berusaha membiasakannya.

 ”Padahal, kalau mereka tahu, dari membaca naskah-naskah tua itu, betapa kayanya Indonesia dengan sejarah, arsitektur, pengobatan, karya sastra, tata negara dan ilmu-ilmu lainnya,” katanya.

 Matahari November masih beringsut malu-malu di atas Kampus Universitas Indonesia, Depok. Cahayanya kadang hilang kadang muncul bersanding dengan suara burung yang bergemerisik di balik pepohonan. Di sebuah ruang kecil Gedung 8, seorang perempuan sepuh tengah asyik membuka lembaran-lembaran sebuah buku. Begitu sampai di lembaran tengah, tangannya berhenti, lantas ia berkata dalam nada riang:

 ”Tapi saya masih memiliki harapan kepada sebagian kecil anak-anak muda sekarang. Seperti dia itu,” ujar sang filologis sembari menunjuk seorang gadis muda yang tengah bergelut dengan buku-buku di ruangan tersebut. Ya ia seolah tengah menunjuk potret dirinya di masa lalu.

Sumber : Hendi Jo

Sabtu, 01 Juni 2013

GEMPA BESAR AWAL ABAD

Andaikan anda memiliki kesempatan untuk ke Bandung melalui jalur Bogor-Puncak-Cianjur, maka di kawasan tapal kuda Cugenang pas sebelah kiri ada sebuah gunung (lebih tepat sebenarnya dinamakan bukit besar) yang dinamakan Gunung Rasamala. Sekitar 3 tahun lalu, saya pernah datang ke sana untuk keperluan riset tentang sejarah sebuah kampung yang ada di bawah kaki Gunung Gede.


 Hampir semua orang tua di sana berkata kepada saya bahwa Gunung Rasamala pernah terbelah secara tiba-tiba. “Itu kata orang-orang tua, kejadiannya pas zaman Walanda kahiji (era Hindia Belanda maksudnya),”ujar Apih Iyang (72). Karena “terbelahnya Gunung Rasamala” inilah, Pemerintah Hindia Belanda sampai memerintahkan para penduduk yang ada di sekitar kawasan tersebut untuk pindah ke selatan jalan raya pos Cugenang, tepat di timur kaki Gunung Gede.

 Saya sungguh penasaran dengan peristiwa aneh itu. Pulang ke Jakarta, dengan segala cara saya cari tentang info-info seputar terbelahnya gunung Rasamala tersebut. Kenapa sih sebab sebenarnya?

 Tak ada informasi yang jelas saya temukan untuk menjawab pertanyaan itu. Di Perpustakaan Nasional, saya hanya menemukan sebuah catatan dari Dr.Visser (1922) dalam On Land Earthquakes 1600-1921. Di buku ini, ia menulis sedikit tentang Cianjur yang merupakan bagian daerah yang pernah dilanda gempa sangat hebat pada 28 Maret 1879 dan 14 Januari 1900. Dan memang, ketika menjenguk foto-foto lama di situs milik KITLV Belanda, saya menyaksikan betapa hebatnya akibat gempa tersebut hingga menyebabkan rumah-rumah penduduk rata menjadi tanah. Adakah ‘terbelahnya’ Gunung Rasamala disebabkan oleh gempa yang berdaya besar tersebut? Sepertinya saya perlu waktu sangat khusus menyelidik soal itu. Atau ada sejarawan beneran yang berminat mencari jawaban dari pertanyaan itu?

Sumber : Hendi Jo

Jumat, 31 Mei 2013

POLITIK MESUM DI ERA ORLA

Ribut-ribut soal gratifikasi seks dan skandal mesum yang tengah disangkakan kepada sejumlah elit partai politik hari ini, saya jadi ingat sebuah kisah yang dituliskan Soe Hok Gie dalam surat kabar Indonesia Raya pada akhir tahun 1960-an. Ceritanya, pada suatu hari saat ia mengunjungi Amerik Serikat ia bertemu sejumlah mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di sana.


 Usai berdiskusi mengenai situasi-situasi politik tanah air pasca G30S, tiba-tiba salah seorang dari mereka nyeletuk kepada aktivis 66 yang memiliki pola piker idealis tersebut: “Soe, kamu mau naik “kuda putih”?

 Ditanya demikian Soe kaget dan balik bertanya, “Maksudnya? Apa itu “kuda putih”? Alih-alih segera menjawab, kawan Soe Hok Gie itu malah tergelak. Setelah reda tawanya, ia lantas menerangkan bahwa pejabat-pejabat Indonesia kalau datang ke AS kerap meminta para mahasiswa untuk menyediakan perempuan-perempuan kulit putih yang bekerja sebagai PSK. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk “menikmatinya”. “Mereka bilang, mumpung di AS,”ungkap sang mahasiswa tersebut.


 Soal pejabat-pejabat Indonesia yang mata keranjang dan berhidung belang (soal istilah-istilah “biru” ini, saya pernah menuliskan hikayatnya di sebuah tulisan beberapa waktu lalu) memang bukan rahasia lagi di kalangan para diplomat asing dan orang-orang Indonesia yang bekerja di Kedubes luar negeri saat itu.

 Ladislav Bittmann, seorang anggota telik sandi Dinas Rahasia Chekoslovakia yang bertugas pada 1950-an, pernah mengungkap soal ini di sebuah bukunya berjudul The Deception Game. Ia menyebut tentang beberapa diplomat Indonesia yang sangat rakus akan seks dan kerjaannya “memesan perempuan”. Coba simak tulisan dia yang mengisahkan perbincangan Mayor Louda, seorang petugas intelejen Departemen D Dinas Rahasia Chekoslovakia, dengan Duta Besar RI di Praha pada sekitar awal 1960-an.

 “Adakah sesuatu yang dapat saya bantu, Yang Mulia Duta Besar?” tanya Mayor Louda

 “Ya kebetulan saja ada, “kata sang Dubes.” Saya memerlukan apartemen yang lebih besar untuk pesta-pesta pribadi saya; apartemen saya yang sekarang terlalu kecil. Dan penghuni-penghuni lain terlalu banyak menaruh perhatian terhadap saya.”

 “Oh ya, saya maklum,”jawab Mayor Louda. “Tetapi anda harus sedikit bersabar. Saya yakin anda pun mengetahui betapa susahnya mendapat tempat yang cocok untuk anda. Kami akan berusaha, tapi anda harus bersabar.”



 “Ada satu lagi permintaan saya,”lanjut sang Dubes.” Dapatkah anda memperkenalkan saya dengan wanita lain? Yang terakhir anda sodorkan kepada saya, terlalu banyak permintaannya, selalu meminta uang maksud saya.”

 “Oh tentu saja, Yang Mulia Duta Besar. Itu soal kecil. Bagaimana kalau tiga minggu lagi?”tanya Louda

 “”Bagus, saya setuju,”jawab sang Duta Besar yang sengaja saya tidak sebut namanya di sini (saya menghargai anak cucunya yang mungkin membaca tulisan ini)

 Contoh di atas baru diambil dari 2 kasus saja. Buka hal yang mustahil, jika ditelisik lebih mendalam soal ini jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan. Di dalam negeri sendiri soal pejabat-pejabat korup yang kerjanya “berkenalan” dengan selebritis papan atas saat itu marak terjadi. Sebut saja salah satunya adalah Jusuf Muda Dalam, Gubernur Bank Indonesia sekaligus loyalis Bung Karno yang diduga memiliki hubungan istimewa dengan sejumlah artis dan sosialita tahun 60-an seperti Baby Huwae, Gaby Mambo dan Nurbaini .

 Pada 9 September 1966, pengadilan pada akhirnya memvonis mati Jusuf Muda Dalam karena dinilai terbukti melakukan kejahatan subversive, memiliki senjata tanpa izin, tindak pidana korupsi dan pernikahan yang dilarang undang-undang. Sebulan sebelum vonis ini jatuh, dalam sebuah ulasannya pada 30 Agustus 1966, harian Api Pantjasila menuliskan: "…kita tidak akan mengungkit-ungkit bagaimana seremnya dia main wanita yang amoral itu, tetapi kejadian tokoh Jusuf Muda Dalam itu telah memberikan pelajaran bagi kita, bahwa tiap-tiap tokoh yang pegang tampuk pimpinan negara apa lagi yang pegang posisi penting, misalnya keuangan, bila punya perbuatan asusila dan amoral tidak akan sukses dalam pekerjaannya. Bahkan akan membawakan bencana bagi tugas-tugas yang dipikulkan negara kepadanya.."

 Banyak kalangan yang menyebut sejatinya tulisan tersebut ditujukan kepada pribadi Bung Karno. Jauh sebelum kejadian Jusuf Muda Dalam, Indonesia dikejutkan masalah skandal Bung Karno dengan 2 gadis Jepang. Menurut Anusapati yang menukil pernyataan seorang penulis Jepang bernama Masashi Nishihara, empat tahun sebelum menikahi Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi, Si Bung sebetulnya pernah menjalin cerita cinta dengan seorang gadis Jepang yang lain. Namanya Sakiko Tanase. “Ia adalah seorang model fesyen,”tulis Nishihara dalam Pers, Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang.

 Perjumpaan pertama kali Bung Karno dengan Sakiko terjadi di Kyoto. Begitu berkenalan, nampak sekali Si Bung sudah merasa tertarik dengan sang geisha. Sinyal cinta sang presiden rupanya ditangkap secara manis oleh Kinoshita, sebuah perusahaan Jepang yang memiliki kepentingan menanamkan investasi di Indonesia saat itu. Lantas, jadilah Sakiko ‘dibawa’ oleh Grup Kinoshita sebagai bagian dari lobi bisnis tingkat tinggi di Indonesia.

 Ternyata Sukarno memang benar-benar jatuh cinta kepada Sakiko. Dan pada suatu hari di penghujung 1958, didatangkanlah Sakiko ke Indonesia, sebagai “pengajar anak-anak ekspatriat Jepang” di Jakarta dan ditempatkan di kawasan elit Menteng. Namun aslinya, menurut Nishimura, Sakiko sebenarnya dijadikan sebagai salah satu nyonya rumah bagi Sukarno. Lengkap dengan nama Indonesianya: Ny.Basuki.

 Entah bagaimana, hubungan SS (Sukarno-Sakiko), tak berlangsung lama. Diperkirakan itu terjadi karena setahun kemudian, saat mengunjungi Jepang untuk kesekian kali, Sukarno jatuh cinta kembali kepada seorang perempuan Jepang berusia 19 tahun yang tentunya jauh lebih cantik. Dialah Naoko Nemoto, seorang geisha yang menjadi andalan lobi tingkat tinggi Grup Tonichi untuk memuluskan jalur bisnis di Indonesia.

 Sekembali dari Jepang, Sukarno mengundang Naoko Nemoto untuk berlibur ke Indonesia. Tahun 1959, tepatnya di hari keempat belas dalam bulan September, Naoko dengan suka cita datang ke Indonesia. Menurut penulis CM Chow, Naoko datang tidak sendiri, ia didampingi oleh dua geisha cantik lainnya. “Mereka ditempatkan di dalam rumah yang disediakan secara khusus oleh perusahaan Tonichi di Jakarta, “tulis CM Chow dalam Autobiography as told to Atoh Matsuda (1981).

 Lalu bagaimana nasib Sakiko setela dicuekan oleh Sukarno? Entah merasa dirinya “terbuang” atau mungkin ada masalah lain, diberitakan dua minggu usai kunjungan cinta Naoko itu, Sakiko Tanase memilih mengakhiri hidupnya dengan cara memutus urat nadi di sebuah rumah mewah yang terletak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Demi mendengar kabar menyedihkan itu, Soekarno katanya sempat shock dan berurai air mata. Jadi gratifikasi seks dan skandal mesum, bukan cerita baru dalam jagad perpolitikan. Keterangan foto: Gaby Mambo, Jusuf Muda Dalam, Baby Huwae dan Leimena dalam sebuah perhelatan yang diadakan pada sekitar pertengahan 1960-an.

Sumber : Hendi Jo


Rabu, 29 Mei 2013

PUISI BAPAK BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA IBU AINUN

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
 Sebenarnya ini bukan tentang
 kematianmu, bukan itu ...

 Karena, aku tahu bahwa semua
 yang ada pasti menjadi tiada pada
 akhirnya ...
 Dan kematian adalah sesuatu yang
 pasti ...
 Dan kali ini adalah giliranmu untuk
 pergi, aku sangat tahu itu ...

 Tapi yang membuatku tersentak
 sedemikian hebat ...

 Adalah kenyataan bahwa
 kematian benar-benar dapat
 memutuskan kebahagiaan dalam
 diri seseorang, sekejap saja, lalu
 rasanya mampu membuatku
 menjadi nelangsa setengah mati,
 hatiku seperti tak di tempatnya,
 dan tubuhku serasa kosong
 melompong, hilang isi ...

 Kau tahu sayang, rasanya seperti
 angin yang tiba-tiba hilang
 berganti kemarau gersang ...

 Pada airmata yang jatuh kali ini,
 aku selipkan salam perpisahan
 panjang ...

 Pada kesetiaan yang telah kau
 ukir, pada kenangan pahit manis
 selama kau ada ...

 Aku bukan hendak mengeluh, tapi
 rasanya terlalu sebentar kau di
 sini ...

 Mereka mengira aku lah kekasih
 yang baik bagimu sayang ...
 tanpa mereka sadari, bahwa
 kaulah yang menjadikan aku
 kekasih yang baik ...

 Mana mungkin aku setia padahal
 memang kecenderunganku adalah
 mendua, tapi kau ajarkan aku
 kesetiaan, sehingga aku setia, kau
 ajarkan aku arti cinta, sehingga
 aku mampu mencintaimu seperti
 ini ...

 Selamat jalan ...
 Kau dari-Nya, dan kembali pada-
 Nya ...
 kau dulu tiada untukku, dan
 sekarang kembali tiada ...
 selamat jalan sayang ...
 cahaya mataku, penyejuk jiwaku ...
 selamat jalan ...
 calon bidadari surgaku ...

 ***Cinta yang tumbuh karena
 iman, amal sholeh dan akhlak yg
 mulia, akan senantiasa bersemi,
 tak lekang karena sinar matahari
 dan tak luntur karena hujan dan
 tak akan putus walaupun
 ajal menjemput..

Sumber : m.facebook.com

Selasa, 28 Mei 2013

Nanan Soekarna Maju Jadi Calon Ketua Kwarnas

JAKARTA - Wakapolri, Komjen Pol Drs Nanan Soekarna siap maju sebagai calon Ketua Kwartir Nasional (Ka Kwarnas) Gerakan Pramuka masa bakti 2013-2018.

Pria kelahiran Purwakarta itu ingin mengabdi sebagai Ka.Kwarnas karena merasa kegiatan Pramuka cukup besar peranannya dalam pembentukan karakter dan sikap. Maka, pada saat Tingkat Dua Taruna Akpol, Nanan mengusulkan diadakan Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka untuk para Taruna Akpol yang hingga kini masih dilaksanakan.

Program-program Pramuka cukup melatih di bidang keorganisasian, kepemimpinan, hidup mandiri serta mengajarkan untuk hormat kepada orangtua dan kepedulian serta terhadap lingkungan dan sesama, kata Nanan Soekarna dalam siaran pers Kwarnas Pramuka, Senin (20/5).

Baginya, lewat Pramuka didapatkan bekal ilmu kehidupan dan pendidikan karakter serta sikap “to be prepared” kepanduan atau sikap siap terhadap situasi apapun.

Taruna Akpol Terbaik Tahun 1978 peraih Adhi Makayasa itu siap maju dalam bursa calon Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka masa bakti tahun 2013-2018. Karena, Pramuka baginya bukanlah hal yang baru.

Di samping pada masa mudanya (masa SMA), aktif di Dewan Kerja Cabang (DKC) Kota Bandung Kwarda Jawa Barat, ia juga dipercayakan menduduki pengurus inti dalam kepengurusan DKC Kota Bandung.

Pria yang pernah menjadi perwakilan Akpol untuk Muhibah AKABRI ke Jepang tahun 1978, misi perdamaian PBB ke Namibia Tahun 1989-1990, dan Kursus FBI Academy South West Virginia, USA itu menginginkan agar gerakan Pramuka lebih berkembang.

Sumber : www.padangmedia.com dan kabaremagazine.com

Senin, 27 Mei 2013

HUKUMAN TEMPO DOELOE

Bernard Dorleans pernah melukiskan peri keadaan Kesultanan Aceh pada tahun 1800-an. Doktor sejarah dari Universitas Sorbone Paris itu menyebut begitu banyaknya para pengemis cacat memenuhi jalanan di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Rata-rata mereka tak memiliki kaki atau tangan. “Ini merupakan konsekwensi logis dari hukuman qisas yang diberlakukan sultan Aceh kepada rakyatnya,”tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI Sampai dengan Abad XX.

 Qisas adalah sistem hukum Islam yang konon pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya zaman dulu di jazirah Arab. Jenis hukum ini didasarkan pada “gigi bayar gigi, mata bayar mata”, kecuali pihak korban bermurah hati memaafkan sang pelaku. Bisanya pemberian maaf pun tidak gratis, harus ditebus dengan dinar dan dirham.

 Sebagai kesultanan Islam, Aceh mengadopsi sistem hukum tersebut. Selain pembunuhan, jenis kejahatan yang dibenci dan akan menuai badai adalah perzinahan. Seorang perempuan bersuami yang ketahuan berzina akan diberikan beberapa alternatif jenis hukuman mati oleh Sultan. Bentuknya tinggal pilih: dilempar lembing atau kepala ditumbuk di dalam lesung (sroh).

 Hukuman berat tidak hanya berlaku di wilayah yang memeluk keyakinan Islam. Menurut Prof.J.E Sahetapy, di Bali bahkan pembunuhan berencana (walad pati), diganjar dengan hukuman tusukan keris ke dada hingga mati. Tak jarang, dalam prakteknya, sang pelaku tidak cukup ditusuk sekali, namun berkali-kali. Bahkan untuk mempercepat nyawa enyah dari badan, para algojo mengingjak-nginjak badan si terhukum yang sudah rubuh tak berdaya tersebut. Tujuannya, supaya darah cepat dan banyak keluar. “Ironisnya semua itu dilakukan di depan para terhukum lainnya yang juga tengah menunggu giliran,”ujar ahli hokum Indonesia kenamaan tersebut dalam Ancaman Hukuman Mati dalam Pembunuhan Berencana

 Tidak kalah seram, dengan Aceh dan Bali, di pedalaman Toraja, pelaku inses dipersilakan mengambil dua opsi hukuman: dicekik sampai mati atau dimasukkan ke dalam rotan yang diberi batu pemberat lalu dilempar ke laut.

 Sadisnya jenis hukuman lokal tersebut berkelindan dengan bentuk hukuman yang dilakukan oleh orang-orang Belanda. Dalam beberapa literature sejarah, tak sedikit orang pribumi dan orang Belanda sendiri yang pernah merasakan dihukum dengan cara disalib, dicincang,dipenggal, dirobek tubuhnya dengan empat kuda yang dihela ke empat penjuru arah mata angin dan lain-lain.


 Pada 1808, Gubernur Jenderal Daendels yang dikenal kejam itu mengintrodusir jenis hukuman mati ala Eropa, yaitu dibakar hidup-hidup dengan tubuh diikat di tiang. Melalui sebuah plakat tertanggal 22 April 1808, Daendels juga mengakomodasi sebuah tata cara hukuman mati lokal, yaitu dieksekusi dengan keris atau sangkur. 

 Namun jenis hukuman paling mengerikan adalah yang diberlakukan Kesultanan Mataram. Ada dua opsi yang harus dipilih seorang terkena vonis hukuman mati: diadu dengan harimau jawa atau lewat picis. Serat Sekar Setaman, buku koleksi Museum Sanapustaka, Keraton Surakarta, menyebut picis sebagai bentuk hukuman yang membuat terhukum mengalami siksaan rasa pedih yang terkira. Jenis hukuman ini, konon sudah diberlakukan oleh orang-orang Majapahit. 


 Orang yang terkena picis akan digiring ramai-ramai ke alun-alun kota oleh para algojo. Di depan ribuan pasang mata, sang pesakitan diikat di tonggak kayu atau pohon. Lalu tubuhnya disayat-sayat dengan pisau, dan lukanya diolesi air garam serta asam. Begitu seterusnya, sampai ia menemui ajalnya. Bayangkan betapa pedihnya. Terhukum akan berada dalam situasi di mana mati terasa lebih “melegakan” ketimbang hidup. 

 Akhirnya, atas usul Gubernur Jenderal Raffles (1811-1816), hukum picis bersama hukuman yang mempraktekan aksi potong-memotong anggota tubuh lainnya, dihapus oleh Sri Sultan Paku Buwono IVpada tahun 1811. (hendijo)

 Foto di atas adalah proses eksekusi hukuman gantung oleh Pemerintah Hindia Belanda pada era tahun 1900-an terhadap penjahat pribumi. Lokasi di depan balai kota Batavia (Stadhuis, sekarang Museum Fatahillah).


Sumber :
Terima kasih untuk kak Randu dan Kak Hendi Jo.
Tulisannya sangat menarik kak.
Terus apdet ya kak